PESAN SEGERA

Dengan 50rb dapatkan : 1 ASKEP atau, 2 SAP+2Leaflet, atau 2 Artikel, atau 3 Askep Persentation dan Terima Pesanan

Saturday, September 7, 2013

Askep Hirschsprung (Hisprung) - BAB I Pendahuluan

Kapevi Hatake | 11:53 PM | | | |
BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
Bangsa yang maju adalah yang bangsa yang mempunyai derajat kesehatan yang tinggi yang merupakan bagian dari pembangunan nasional yaitu mewujudkan bangsa yang maju dan mandiri serta sejahtera lahir dan batin. Hal ini diwujudkan dengan adanya paradigma sehat dan visi pembangunan kesehatan yaitu Indonesia sehat 2010 ( Dep Kes RI 1999 ).
Derajat kesehatan ini tidak hanya dilihat dari status kesehatan orang dewasa tetapi juga status kesehatan pada anak-anak. Penyakit yang terjadi pada anak-anak bias disebabkan oleh penyakit congenital ( bawaan ) dan non congenital, salah satu penyakit pada anak yang bersifat congenital adalah Hirschsprung's disease.
Hirschsprung's disease adalah penyakit tidakadanya sel-sel ganglion dalam rectum atau bagian rectosigmoid colon dimana ketidakadaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya peristaltic serta tidak adanya evakuasi khusus spontan. ( Rusli Arif, 2008 )
Aganglionik megacolon kongenital, atau Hirschsprung's disease, merupakan penyebab tersering dari obstruksi usus pada neonatus.Penyakit ini ditemukan oleh seorang dokter anak Denmark bernama Harald Hirschsprung pada tahun 1886. Sejak dikenal pertama kali pada tahun 1886 dan sejak operasi untuk penyembuhannya diperkenalkan pada tahun 1948, kemajuan yang stabil telah didapatkan dalam hal etiologi dan patofisiologi daripenyakit ini. Penyakit tersebut saat ini hampir selalu dapat didiagnosa pada awal masa bayi yang memungkinkan intervensi lebih awal dan hasil akhirnya lebih baik, dimana tingkat mortalitasnya saat ini adalah 1 - 3%.
Hirschsprung's disease terjadi pada sekitar 1 tiap 5000 kelahiran hidup. Sekitar 7% pasien lahir secara prematur. Perbandingan menurut jenis kelamin secara keseluruhan lebih besar pada pria 3.4:1. namun demikian pada penyakit segmen pendek, rasionya menjadi 4:1, sedangkan pada penyakit segmen panjang rasionya menurun menjadi 1:1, dan untuk Hirschsprung's disease total kolon rasionya lebih besar pada wanita 1.6:1. Aganglionosis meluas pada daerah rectosigmoid pada 75% pasien, sampai ke kolon asenden 17%, dan yang melibatkan keseluruhan colon serta ileum terminal pada 8% pasien. Aganglionosis keseluruhan usus sangat jarang dilaporkan. Daerah aganglionik terbatas diantara dua segmen usus yang terganglionisasi, amat sangat jarang. Sekitar 8% pasien memiliki ‘familial' Hirschsprung's disease. Ryan menemukan bahwa 20% bayi dengan long-segment disease memiliki keluarga yang terkena dibandingkan dengan hanya 3% pada mereka yang dengan short-segment disease.
Kelainan lainnya yang terkait terjadi pada sekitar 20% pasien, yang tersering adalah Down syndrome, terjadi antara 8 dan 16% pasien. Pasien dengan Down syndrome memiliki prognosis yang lebih buruk setelah pengobatan karena adanya peningkatan enterokolitis terkait Hirschsprung's (pada sekitar 50%), hasil fingsional yang lebih buruk dengan berlanjutnya kontinensia feces, dan peningkatan mortalitas (sampai dengan 38%).
Kelainan lainnya yang terkait termasuk defek jantung kongenital pada 7,8%, kelainan genitourinaria pada 5.6%, dan kelainan gastrointestinal lainnya pada 3.9% pasien. Salah satu kondisi lainnya yang jarang terjadi, disebut dengan ‘neurocristopathy', adalah hubungan antara Hirschsprung's disease (biasanya dengan keterlibatan keseluruhan kolon) dengan sindroma hipoventilasi sentral (Ondine's curse) dan neuroblastoma.

B.   Tujuan
  1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan laporan ini adalah untuk mendapatkan gambaran nyata mengenai asuhan keperawatan pada pasien Hirschsprung's disease.
  1. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus penulisan laporan ini adalah untuk mendapatkan gambaran nyata tentang:
a.       Pengkajian data yang menunjang masalah keperawatan pada pasien dengan Hirschsprung's disease
b.      Diagnosa keperawatan pada pasien dengan Hirschsprung's disease
c.       Rencana keperawatan untuk masing-masing diagnosa keperawatan pada pasien dengan Hirschsprung's disease.
d.      Pelaksanaan tindakan keperawatan pada pasien dengan Hirschsprung's disease
e.       Pelaksanaan evaluasi pada pasien dengan Hirschsprung's disease

C. Metode Penulisan
Dalam laporan studi kasus ini penulis menggunakan metode deskriptif, yaitu suatu metode yang bersifat mengumpulkan data, menganalisa dan menarik kesimpulan dari kasus yang diamati dengan apa adanya, bahan-bahan yang diperlukan didapat dengan menggunakan berbagai teknik pengumpulan data yaitu:
  1. Studi kepustakaan yaitu usaha memperoleh data secara teori yang berhubungan dengan laporan ini.
  2. Studi kasus secara langsung pada klien serta berpartisifasi aktif dalam memberikan asuhan keperawatan.
  3. Wawancara dengan klien dan keluarga, petugas kesehatan yang mengetahui tentang keadaan klien memvalidasi melalui status.
  4. Pemeriksaan fisik langsung kepada klien.

D. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan, laporan studi kasus ini adalah sebagai berikut :
BAB I       PENDAHULUAN berisikan penjelasan mengenai latar belakang masalah, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan laporan kasus.
BAB II      TINJAUAN TEORITIS berisikan tentang konsep dasar terdiri dari pengertian, klasifikasi, etiologi, gambaran klinis, komplikasi, patofisiologi, program terapi, pencegahan, pengkajian, analisa data, diagnosa keperawatan dan intervensi.

BAB III    PENUTUP berisikan Kesimpulan.

No comments:

Post a Comment

DUNIA KEPERAWATAN. Powered by Blogger.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Search

Exit Jangan Lupa Klik Like & Follow Ya!!