PESAN SEGERA

Dengan 50rb dapatkan : 1 ASKEP atau, 2 SAP+2Leaflet, atau 2 Artikel, atau 3 Askep Persentation dan Terima Pesanan

Wednesday, March 20, 2013

Askep Keluarga Berencana (KB)

Kapevi Hatake | 12:15 AM |

TINJAUAN TEORITIS
KELUARGA BERENCANA

A.   Keluarga Berencana (KB)
Pengertian keluarga berencana secara umum ialah suatu usaha yang mengatur banyaknya jumlah kelahiran sedemikian rupa sehingga bagi ibu maupun bayinya dan bagi ayah serta keluarganya atau masyarakat yang bersangkutan tidak akan menimbulkan kerugian sebagai akibat langsung dari kelahiran tersebut Pengertian sempitnya keluarga berencana dalam kehidupan sehari-hari berkisar pada pencegahan terjadinya pembuahan atau mencegah pertemuan antara sel mani pada laki-laki dan sel telur dari wanita sekitar persetubuhan (Risyadi, 2001).
Menurut WHO, KB adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk:
1.    Mendapatkan objektif-objektif tertentu
2.    Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan
3.    Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan
4.    Mengatur interval saat kehamilan
5.    Menentukan jumlah anak dalam keluarga

B.   Kontrasepsi
Kontrasepsi berasal dari kata kontra, yaitu mencegah atau melawan. Sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur (sel wanita) yang matang dan sel sperma (sel pria) yang mengakibatkan kehamilan. Jadi kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut.
Cara kerja kontrasepsi pada umumnya dapat dibagi menjadi:
1.    Metode Sederhana:
a.    Tanpa alat / obat
1)   Senggama terputus
2)   Pantang berkala
b.    Dengan alat / obat
1)   kondom
2)   diafragma atau cap
3)   cream, jelly dan cairan berbusa
4)   tablet berbusa (vaginal tablet)
2.    Metode Efektif
a.    Pil KB
b.    AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim )/IUD
c.    Suntikan KB
d.    Susuk KB
3.    Metode Mantap dengan cara operasi
a.    Pada Wanita      : Tubektomi
b.    Pada Pria           : Vasektomi

      C.   Cara Kerja Kontrasepsi
1.    Metode Sederhana
a.    Tanpa Alat / obat
1)   Senggama terputus (Azal atau coitus interuptus)
Senggama dijalankan sebagaimana biasa tetapi pada puncak senggama alat kelamin pria (zakar) dikeluarkan dari vagina, sehingga mani keluar dari luar vagina. Cara ini tidak berbahaya baik fisik maupun mental. Namun sebenarnya cara ini tidak dapat diandalkan sepenuhnya karena:
a)    Memerlukan penguasaan diri yang kuat
b)   Kemungkinan ada sedikit cairan yang mengandung spermatozoa tertumpah dari zakar dan masuk kedalam vagina sehingga dapat terjadi kehamilan, meskipun sudah  dilakukan pencabutan sebelum mani menyemprot.
2)   Pantang Berkala
Pantang berkala ádalah tidak melakukan senggama pada masa subur seorang wanita, yaitu sekitar waktu kejadiannya ovulasi. Cara menentukan masa ovulasi adalah:
a)    Untuk dapat menentukan masa ovulasi perlu diketahui siklus haid yang akan datang
b)   Untuk mengetahui haid yang akan datang perlu diketahui siklus haid
c)    Untuk mengetahui lamanya siklus haid perlu dicatat sekurang-kurangnya 8-12 siklus haid selama 8 bulan
b.    Dengan Alat/Obat
Maksud penggunaan alat adalah untuk menahan atau menghalangi masuknya sperma ke dalam rahim sedangkan penggunaan obat dimaksudkan untuk melumpuhkan sperma.
1)   Kondom
Kondom adalah suatu karet yang tipis, berwarna atau tidak berwarna dipakai untuk menutupi zakar yang berdiri sebelum dimasukkan ke dalam vagina sehingga mani tertampung di dalamnya dan tidak masuk ke dalam vagina, dengan demikian mencegah terjadinya pembuahan. Adapaun indikasi pemakaian kondom adalah:
a)    6 Minggu sesudah vasektomi, kondom perlu dipakai sampai selama 6 minggu sesudah vasektomi (sampai mani tidak mengandung spermatozoa lagi yang dapat diketahui lebih jelas dengan pemeriksaan laboratorium)
b)   Sementara menunggu pemasangan AKDR
c)    Sementara sedang menunggu haid untuk pemakaian pil yang diminum
d)   Apabila kelupaan minum pil dalam jangka waktu lebih dari 36 jam
e)    Apabila diduga ada penyakit kelamin sementara menunggu diagnosa yang pasti
f)     Bersamaan dengan pemakaian spermicide
g)   Dalam keadaan darurat bila tidak ada kontrasepsi yang tersedia atau dipakai.
2)   Diafragma / Cap
Diafragma dibuat dari karet yang berbentuk mangkok, dipakai untuk menutup serviks gunanya untuk mencegah masuknya mani kedalam serviks. Diafragma dimasukkan kedalam vagina setinggi mungkin sampai menutupi mulut rahim, kemudian dikeluarkan lagi delapan jam setelah persetubuhan.
3)   Cream, Jelly dan tablet atau cairan berbusa
Cream, jelly dan tablet atau cairan berbusa yang disebut spermicida adalah suatu bahan kimia yang menghentikan gerak/ melumpuhkan spermatozoa didalam vagina sehingga tidak dapat membuahi telur. Untuk penggunaan spermicida yang berbentuk tablet berbusa dimasukkan kedalam vagina.
2.    Metode efektif
a.    Pil Keluarga Berencana
1)   Pengertian Pil KB
Pil KB ialah pil yang berisikan hormon estrogen dan atau hormon progesteron yang dimakan wanita secara teratur untuk mencegah kehamilan (Syahlan, 1996).
Menurut Herti (2007) pil adalah obat pencegah kehamilan yang diminum. Pil telah diperkenalkan sejak tahu 1960, pil diperuntukkan bagi wanita yang tidak hamil dan menginginkan cara pencegah kehamilan sementara yang paling efektif bila diminum secara teratur.  
2)   Jenis-Jenis Pil Keluarga Berencana
Menurut (Herti, 2007) ada 3 jenis pil KB, yaitu :
a)    Pil gabungan atau kombinasi
Tiap pil mengandung dua hormone sintetis, yaitu hormone estrogen dan progestin. Pil gabungan mengambil manfaat dari cara kerja kedua hormon yang mencegah kehamilan, dan hampir 100% efektif bila diminum secara teratur.
b)   Pil berturutan
Dalam bungkusan pil-pil ini, hanya estrogen yang disediakan selama 14-15 hari pertama dari siklus menstruasi, diikuti oleh 5-6 hari pil gabungan antara estrogen dan progestin pada sisa siklusnya. Kelalaian minum 1 atau 2 pil berturutan pada awal siklus akan dapat mengakibatkan terjadinya pelepasan telur sehingga terjadi kehamilan.   
c)    Pil khusus
Pil ini mengandung dosis kecil bahan progestin sintetis dan memiliki sifat pencegah kehamilan, terutama dengan mengubah mukosa dari leher rahim (merubah sekresi pada leher rahim) sehingga mempersulit pengangkutan sperma.
3)   Cara Pemakaian Pil KB
Pil pertama dari bungkus pertama diminum pada hari kelima siklus haid. Dapat juga dimulai pada suatu hari yang diinginkan, misalnya hari minggu agar mudah diingat. Pada pasca persalinan pil mulai dimakan sesudah bayi berumur 30-40 hari, sedang pada pasca keguguran 1-2 minggu sesudah kejadian (Wiknjosastro, 2002:919). 
Pil KB yang berisi 20,21 dan 22 tablet mulai dimakan terus menerus, dan kemudian istirahat selama 1 minggu. Pada pil kombinasi yang terdiri atas 28 tablet (21 tablet pil kombinasi dan 7 tablet placebo), pil diminum terus menerus. Tablet yang diminum pertama kali sewaktu haid ialah tablet plasebo. Pada 2 minggu pertama pemakaian pil bungkus pertama sebaiknya jangan bersenggama, atau memakai cara kontrasepsi lain. (Wiknjosastro, 2002:919).
Pemberian pil dihentikan sementara  bila terdapat:
a)    Denyut nadi melebihi 120/menit
b)  Radang pembuluh darah balik (phlebitis)
c)  Tekanan darah lebih dari 140/110 mmHg disertai sakit kepala yang hebat, nafas sesak atau berdebar-debar
d)  Pertambahan berat badan yang progresif
      Efek Samping Pil KB
Gejala-gejala sampingan penggunaan pil KB disebabkan oleh karena adanya gangguan keseimbangan hormon estrogen dalam tubuh. Gejala-gejala tersebut baik yang bersifat subjektif maupun objektif biasanya hanya sementara, ringan, tidak terdapat pada semua pemakai pil dan hilang dengan sendirinya setelah dua sampai tiga bulan (Syahlan, 1996:109).

Tabel 2.1
Efek Samping Pil KB
Estrogen
Progestin
Kelebihan
Kekurangan
Kelebihan
Kekurangan
Ø  Nausea
Ø  Edema
Ø  Keputihan
Ø  Kloasma
Ø  Disposisi lemak berlebihan
Ø Eksotrofie serviks
Ø  Teleangiektasia
Ø  Nyeri kepala jenis vaskuler
Ø  Hipertensi
Ø  Supersi laktasi

Ø Irritabilitas
ØSemburan panas
Ø Prolapsus uteri
Ø Spotting
Ø Darah haid berkurang
Ø Tidak adanya perdarahan surut
ØLibido berkurang
Ø Nafsu makan meningkat
Ø Berat badan bertambah
Ø Cepat lelah
Ø Depresi
ØLibido berkurang
Ø Akne
Ø Alopesia
ØCholestatic jaundice
Ø Lama haid berkurang
Ø Darah haid lebih banyak disertai bekuan pendarahan surut terlambat
Ø  Buah dada tegang dengan retensi cairan

Ø Nyeri kepala
Ø Efek anabolic
Ø Moniliasis
ØPayudara membesar
ØPayudara tegang tanpa retensi cairan

    Sumber: Wiknjosastro (2002:920)
 Menurut Wiknjosastro (2002:919) efek samping dari penggunaan pil KB dibagi dalam 2 golongan, yaitu :
a)    Efek sampingan ringan
Efek sampingan ringan dari penggunaan pil KB adalah: adanya pertambahan berat badan, perdarahan di luar daur haid, mual-mual, depresi, alopesia, melasma, kandidiasis, amenorea pascapil, retensi cairan, dan keluhan-keluhan gastrointestinal. Umumnya efek sampingan ini akan berkurang dan hilang dengan sendirinya, ada pula yang hilang jika pasien berpindah ke pil yang lain dengan kadar estrogen dan progestron yang lebih sesuai
b)  Efek sampingan berat
Efek sampingan yang berat dari penggunaan pil KB adalah tromboemboli yang mungkin terjadi karena peningkatan aktivitas faktor-faktor pembekuan, atau mungkin juga karena pengaruh vaskuler secara langsung. Angka kejadian tromboemboli pada para wanita pemakai pil adalah sekitar 4-9 kali lebih tinggi dari pada para wanita bukan pemakai pil golongan umur yang sama. Angka kematian ialah 3 per 100.000 wanita pemakai pil, sehingga kalau dibandingkan dengan angka kematian maternal (oleh karena kehamilan) angka itu sebenarnya jauh lebih rendah. Kemungkinan mendapat tromboemboli-suatu komplikasi jarang-dikurangi oleh pemakaian pil yang mengandung estrogen dosis rendah, misalnya 50 mikro gram atau kurang dari itu. Walaupun demikian masih ada kemungkinan hubungan antara tromboemboli progesteron. 
4)   Penanggulangan Efek Samping Pil KB
a)    Spotting
Berikan penjelasan bahwa hal tersebut hanya sementara, tetapi jika terus menerus berikan pil KB 1-2 tablet  per hari selama beberapa hari sampai spotting hilang atau diganti dengan Pil KB yang kadar estrogennya lebih tinggi.
b)   Rasa mual
Berikan vitamin B 6, ganti dengan pil yang mengandung estrogen lebih rendah atau ganti dengan cara KB yang lain.
c)    Cloasma
Hentikan penggunaan pil, atau ganti dengan cara penggunaan cara KB lain
d)   Acne
Ganti dengan pil yang mengandung estrogen tinggi atau pil dihentikan sementara dengan menggunakan cara KB lain.
e)    Candidialis vaginal
Berikan antymycotic, ganti dengan pil yang mengandung estrogen tinggi atau pil dihentikan sementara dengan menggunakan cara KB lainnya
f)     Nyeri kepala
Ganti dengan pil yang mengandung estrogen lebih rendah atau hentikan penggunaan pil, ganti dengan cara KB yang lain
g)   Penambahan berat badan
Bila penambahan berat badan secara progresif dan banyak maka pemakaian pil sebaiknya dihentikan atau diganti dengan cara KB yang lain.
h)   Varises/tromboplebitis
Hentikan penggunaan pil dan harus mendapat perawatan khusus
i)     Hypertensi
Apabila lebih dari 160/105 mmHg, maka penggunaan pil perlu dihentikan dan harus mendapat perawatan khusus.
b.   IUD/AKDR
1)   Pengertian
IUD adalah suatu alat kontrasepsi yang dimasukan ke dalam rahim yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kehamilan (Prawiroharjo, 1999). Bahan-bahan IUD yang biasa digunakan terdiri dari plastik, benang sutera, dan metal (Digitized by Usu, 2003).
2)   Cara Kerja IUD
Menurut Saifuddin (2003) cara kerja IUD adalah sebagai berikut :
a)    Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tubafalopi
b)   Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri
c)    IUD bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun IUD membuat sperma sulit masuk kedalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi
d)   Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus
3)   Keuntungan-keuntungan AKDR
Menurut Saifuddin (2003), keuntungan-keuntungan AKDR adalah sebagai berikut :
a)  Sebagai kontrasepsi mempunyai efektifitas yang tinggi, dimana menurut BKKBN (1989) hanya terdapat 1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan.
b)   IUD dapat efektif segera setelah pemasangan.
c)    Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari Cu T 380 A dan tidak perlu diganti)
d)   Sangat efektif karena tidak perlu mengingat-ingat
e)    Tidak mempengaruhi hubungan seksual
f)     Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil.
g)   Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu IUD (Cu T – 380 A)
h)   Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI.
i)     Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus apabila tidak terjadi infeksi
j)     Dapat digunakan sampai menopause
k)    Tidak ada interaksi dengan obat-obatan
l)     Membantu mencegah kehamilan ektopik
4)   Kerugian-kerugian AKDR
Menurut Saifuddin (2003), kerugian yang dapat ditimbulkan oleh IUD adalah :
a)    Tidak mencegah IMS termasuk HIV / AIDS
b)   Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering berganti pasangan
c)    Penyakit Radang Panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai IUD, dimana PRP dapat memicu intertilitas
d)   Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvic diperlukan dalam pemasangan IUD. Seringkali perempuan takut selama pemasangan
e)    Sedikit nyeri dan perdarahan (sprotting) terjadi segera setelah pemasangan IUD. Biasanya menghilang dalam 1-2 hari
f)     Klien tidak dapat melepas IUD oleh dirinya sendiri. Petugas kesehatan terlatih yang harus melepas IUD
g)   Mungkin IUD keluar dari uterus tanpa diketahui (sering terjadi apabila IUD dipasang segera sesudah melahirkan)
h)   Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi IUD untuk mencegah kehamilan normal
i)     Perempuan harus memeriksa posisi benang AKDR dari waktu ke waktu. Untuk melakukan ini perempuan memasukkan jarinya ke dalam vagina, sebagian perempuan tidak mau melakukan ini.
5)   Indikasi pemasangan AKDR
a)    Telah mendapat persetujuan suami
b)   Pernah melahirkan dan telah mempunyai anak serta ukuran rahimnya tidak kurang dari 5 cm
c)    Telah cukup jumlah anaknya dan belum memutuskan untuk sterilisasi.
d)   Tidak ingin hamil paling tidak untuk 2 tahun
e)    Dianjurkan sebagai pengganti Pil KB, bagi peserta yang umumnya di atas 35 tahun
6)   Kontraindikasi pemasangan AKDR
a)    Adanya kehamilan
b)   Infeksi panggul (pelvis) yang terus menerus, akut, dan kronis
c)    Lecet ( erosi) atau peradangan pada leher rahim
d)   Diketahui datau dicurigai kanker rahim
e)    Perdarahan yang tidak normal dari alat kelamin
f)     Perdarahan haid yang hebat
g)   Alergi logam
h)   Rahim kecil, endometriosis
7)   Saat yang baik pemasangan AKDR
Pada dasarnya AKDR dapat dipasang setiap saat biasanya dilakukan pada waktu haid, yaitu pada akhir haid atau pada hari sebelum berakhirnya haid, karena:
a)    Serviks lembut dan sedikit terbuka
b)   Perdarahan dan sakit perut mungkin tidak menimbulkan keluhan pada wanita tersebut
Pemasangan AKDR dapat juga dilakukan sewaktu-waktu, pada saat:
a)    Segera setelah induksi haid atau abortus spontan, asalkan tidak ada tanda-tanda infeksi misalnya: tidak panas, rahim tidak lembut, tidak ada keputihan seperti nanah/banyak sekali
b)   Setelah melahirkan yaitu: segera setelah melahirkan 2-4 hari setelah melahirkan 40 hari setelah melahirkan.
c.    Suntikan KB
Suntikan KB mengandung hormon progresteron, tidak mengandung estrogen.
1)   Cara kerja
Kontasepsi senantiasa mencegah kehamilan dengan cara:
a)    Menghalangi terjadinya ovulasi
b)   Menipiskan endometrium sehingga tidak terjadi nidasi
c)    Memekatkan lendir serviks sehingga menghambat perjalanan spermatozoa melalui kanalis servikalis
2)   Keuntungan
a)    Sangat efektif, kegagalannya kurang dari 1%
b)   Kemungkinan salah dan lupa memakainya tidak ada
c)    Dapat diberikan pada ibu yang menyusukan karena tidak mengurangi produksi  ASI
d)   Diberikan setiap 12 minggu sekali
3)   Jenis
Kontrasepsi suntikan yang beredar di Indonesia ada 2 macam, yaitu DMPA (Depo Medroxis Progresteron Asetat) yang lazim disebut Depo Provera dan net oen (noretisteron) yang lazim disebut Noristerat. Depo provera sebagai kontrasepsi suntikan diberikan dosis 150 mg/3 cc sedangkan noristerat dengan dosis 200 mg/cc
4)   Waktu pemberian
a)    Pasca persalinan sampai 40 hari
b)    Pasca keguguran sampai 7 hari
c)    Interval dengan anak hidup minimal satu, sebelum hari kelima haid
5)   Cara penyuntikan
a)    Intramuskular
b)   Tempat penyuntikan
(1)  Pada otot bokong (glutea) yang dalam, bekas suntikan ditutup dengan plester  untuk mencegah keluarnya obat.
(2)  Pada otot pangkal lengan (deltoid)
6)   Indikasi
a)    Ibu telah mempunyai anak lebih dari satu
b)   Tidak dalam keadaan hamil
c)    Riwayat siklus haid teratur
d)   Tidak terdapat kontraindikasi
7)   Kontraindikasi
a)    Hamil
b)   Perdarahan pervaginam yang tidak diketahui sebabnya
c)    Tumor/ keganasan
d)   Terdapat penyakit jantung, paru-paru, kelainan faal hati, tekanan darah tinggi, obesitas, diabetes
8)   Efek samping dan penanggulangannya
a)    Devo provera
(1) Efek samping dapat berupa :
(a)  Gangguan haid: amenorhea, menoragia, metroragia, dan spotting
(b) Gangguan bukan haid: pusing sakit kepala, mual, muntah, rambut rontok, jerawat, kenaikan berat badan, kenaikan tekanan darah, penurunan libido, alergi dan hyperpigmentasi.
(2) Penanggulangannya
Penanggulangan haid belum ada yang tepat, tapi untuk sementara dianjurkan antara lain adalah perbaikan gizi, pemberian pil KB 1-3 /hari selama 5-7 hari, penerangan yang lebih intensif, pemberian obat symtomatis.

b)   Noristerat
(1) Perdarahan yang mengganggu, penanggulangannya dengan pil kombinasi 1 tablet /hari selama 10 hari
(2) Tidak sedang haid (amenorhea), penanggulangannya tidak diberikan pengobatan bila tidak menimbulkan kegelisahan-kegelisahan. Amenorhea di tanggulangi dengan pil kombinasi 2-3 tablet perhari selama 7 hari. Bila amenorhea yang terus menerus setelah 3 kali suntikan, dengan atau tanpa pengobatan, maka suntikan dihentikan

d.    Alat Kontrasepsi Susuk (Implant)
1)   Pengertian Alat Kontrasepsi Implant
Alat kontrasepsi susuk KB atau implant adalah alat kontrasepsi bagi wanita yang dipasang (disusukan) dibawah kulit lengan bagian atas yang terdiri atas 1 atau 2 atau 6 kapsul berukuran kira-kira 3 cm berisi zat levonorgestrvel. (Hartono, 2003)
2)   Cara Kerja Susuk KB
Dengan disusupkannya  kapsul tersebut silastik Implant dibawah kulit, maka setiap hari dilepaskan secara tetap sejumlah Levonogestrel kedalam darah melalui proses difusi dari kapsul-kapsul yang terbuat dari bahan silastik tersebut, besar kecilnya levonogestrel yang tergantung dari besar kecilnya levonogestrel permukaan kapsul silastik dan ketebalan dari dinding kapsul tersebut.
Menurut Sadikin (2003), dengan dilepaskannya hormon levonogestrel secara konstan dan kontiyu maka cara kerja implant dalam mencegah kehamilan pada dasarnya terdiri dari 3 mekanisme dasar yaitu:
a)    Menghambat terjadinya ovulasi
b)   Terhambatnya perjalanan sel telur menuju rahim
c)    Menebalkan leher rahim/lendir serviks
3)   Yang Tidak Diperbolehkan Menggunakan susuk KB
Menurut Sadikin (2003) akseptor yang tidak diperbolehkan menggunakan Implant / susuk KB adalah:
a)    Akseptor diperkirakan hamil atau tidak hamil
b)   Menderita Tumor
c)    Wanita berpenyakit jantung, darah tinggi dan kencing manis, sakit kuning, infeksi panggul, varices berat, wasir
4)   Keuntungan susuk KB
Menurut Sadikin (2003) keuntungan dari penggunaan alat kontrasepsi implant adalah sebagai berikut:
a)    Tidak menekan produksi ASI
b)   Praktis dan efektif
c)    Tidak ada faktor lupa
d)   Masa pakai jangka panjang (5 tahun)
e)    Membantu mencegah anemia
f)     Khasiat kontrasepsi susuk berakhir segera setelah pengangkatan
g)   Dapat digunakan oleh ibu yang tidak cocok dengan hormon estrogen.
5)   Pemasangan susuk KB
Waktu pemasangan implant yang tepat adalah pada saat ibu sedang haid, yaitu sejak hari pertama haid sampai selambat-lambatnya hari ketujuh, Postpartum 3-4 minggu. Pemeriksaan Ginekologi sebelum pemasangan Implant perlu dilakukan sama seperti pada pemakaian kontrasepsi hormonal lainnya, jika tidak terdapat kontra indikasi hormon progestin maka pemasangan implant dapat dilakukan.
6)   Pencabutan susuk KB
Akseptor sebaiknya berbaring horisontal selama pencabutan Implant, untuk mempermudah pencabutan, tempat tidur/meja ditutup dengan kain yang bersih.
7)   Efek Samping, Penaggulangan, dan Pengobatan
a)    Gangguan Haid
(1) Gejala dapat berupa Amenorhea dan Methrorhagia
(2) Penanggulangan dan pengobatan
(a)   Penanggulangannya dengan cara memberikan penjelasan kepada calon implant bahwa pemakaian Implant dapat menyebabkan gejala-gejala tersebut akibat dan hormonal implant. Biasanya gejala-gejalanya perdarahan tidak berlangsung lama. Bila amenorhea, berikan penjelasan dengan baik.
(b)  Pengobatannya dengan cara bila pasien ingin haid, dapat dilaksanakan dengan memberikan pil KB hari I sampai 2 masing-masing 3 tablet. Selanjutnya dari hari 4, l x 1 selama 4-5 hari. Bila perdarahan dapat pula diberikan preparat estrogen misalnya Ethynil Estradiol 2 x I sehari sampai perdarahan berhenti. Setelah perdarahan berhenti dapat dilaksanakan “tapering off” (1 x 1 tablet) selama beberapa hari. Dosis dapat ditingkatkan bila perlu.
b)    Depresi
(1) Gejala dan keluhan dapat berupa rasa sakit, tidak semangat dalam bekerja/ kehidupan.
(2) Penanggulangan dan pengobatan
(a)   Penanggulangannya dengan cara memberikan penjelasan kepada calon akseptor guna menghindari perasaan bersalah dan calon akseptor.
(b)  Pengobatannya dengan cara terapi psikologis bagi yang menderita depresi, pemberian vitamin-vitamin seperti B6 50 mg.
c)    Keputihan
(1) Gejala dan keluhannya berupa cairan putih yang berlebihan yang keluar dari liang senggama dan mengganggu. Hal ini jarang terjadi pada peserta implant dan bila terjadi ada penyebab lain. Tidak berbahaya kecuali berbau, panas atau terasa gatal.
(2) Penanggulangan dan pengobatan
(a)   Penanggulangannya dengan cara memberikan penjelasan kepada peserta Implant jarang terjadi keputuhan, bila hal ini terjadi juga harus dicari penyebabnya.
(b)  Pengobatannya tidak diperlukan pada kasus dimana cairan berlebihan, dapat diberikan preparat anti kolinergik seperti ektrat belladona 10 mg, 2 x 1 tablet.
d)    Jerawat
(1) Gejala dan keluhannya berupa jerawat di wajah/badan dapat disertai infeksi atau tidak.
(2) Pengobatan
Pengobatannya dengan memberikan Vitamin A dan vitamin E dosis tinggi. Bila disertai infeksi dapat diberikan preparat Tetrasiklin 250 mg 2x1 kapsul selama 1 atau 2 minggu.
e)    Perubahan Libido
(1) Gejala dan keluhannya menurunnya atau meningkatnya libido akseptor. Hal ini bersifat subyektif dan sulit dinilai.
(2) Penanggulangan dan pengobatan
Menjelaskan kepada pasien kemungkinan hal ini dan sifatnya yang subyektif pengobatan medis tidak dianjurkan.
f)     Perubahan Berat
(1) Gejala dan keluhannya berat badan bertambah beberapa Kg dalam beberapa bulan setelah pemakaian Implant.
(2) Penanggulangannya
Menjelaskan kepada akseptor Implant bahwa kenaikan berat badan adalah salah satu efek samping dan pemakaian Implant, akan tetapi tidak selalu kenaikan berat tersebut diakibatkan dan pemakaian implant.
g)    Hematoma
(1) Gejala dan keluhannya berupa warna biru dan rasa nyeri pada daerah pemasangan atau pencabutan akibat perdarahan bawah kulit
(2) Penanggulangan dan pengobatan
(a)   Penanggulangannya dengan cara membenikan penjelasan kepada peserta akseptor mengenai kemungkinan hal tersebut.
(b)  Pengobatannya dengan cara kompres dingin pada daerah yang membiru selama dua hari. Setelah itu rubah menjadi kompres panas hingga wama biru/kuning hilang.
h)    Nyeri
(1) Gejala dan keluhannya berupa rasa nyeri pada daerah pemasangan akibat iritasi saraf setempat, hal ini mungkin terjadi dari pemasangan Implant.
(2) Penanggulangan dan pengobatan
(a)   Penanggulangannya dengan cara memberikan penjelasan kepada akseptor tentang fisiologis dan cara pemasangan Implant secara jelas.
(b)  Pengobatannya pemberian preparat analgetik anti prostaglandin misalnya Acetosal 500 mg 3x1 tablet atau parasetamol 500 mg 3x1 tablet.
3.    Metode Mantap
a.    Tubektomi (MOW)
Tubektomi adalah kontrasepsi permanen wanita yang tidak menginginkan anak lagi yang bekerja menghambat sel telur wanita sehingga tidak dapat dibuahi oleh sperma. Cara kontrasepsi ini dipersiapkan melalui tindakan operasi kecil dengan mengikat dan memotong sel tuba (telur) pada istri. Keuntugannya adalah: Pemakaian atau perlindungan terhadap terjadinya kehamilan sangat tinggi, dapat digunakan seumur hidup, tidak mengganggu hubungan suami istri, tidak mengganggu produksi ASI. Kerugiannya berupa: faktor resiko dan efek samping bedah.
Vasektomi (MOP)
Cara kontrasepsi ini dipersiapkan melalui operasi tindakan ringan dengan cara mengikat dan memotong sel sperma (vas diferent) sehingga sperma tidak dapat lewat dan air mani tidak mengandung spermatozoa, dengan demikian tidak terjadi pembuahan.
Keuntungan dari vasektomi adalah:
1)   Tidak ada mortalitas (kematian)
2)    Morbiditas (mengakibatkan sakit) kecil sekali
3)   Dilakukan anastesi local, hanya kurang lebih 15 menit
4)   Kemungkinan kegagalan tidak ada, karena diperiksa kepastian laboratorium
5)   Tidak mengganggu hubungan seksual dan cairan mani yang dikeluarkan waktu coitus tidak berubah
6)   Biaya murah
7)   Dapat dilakukan dimana saja asal tempatnya bersih dan tenang, tidak selalu harus di kamar mandi.
Efek samping vasektomi adalah: kulit membiru atau lecet, pembengkakan dan rasa sakit, keadaan ini merupakan hal yang ringan dan akan hilang sendiri tanpa pengobatan sederhana, gejala tersebut timbul sebagai akibat persiapan, teknik dan perawatan yang kurang sempurna disamping factor penderita sendiri.
Penangulangannya adalah dengan pemberian antibiotika dan analgetik, kemudian konsultasikan dengan ahli jiwa jika penderita mengalami gangguan psikologis.
Kegagalan  pada vasektomi dapat terjadi konsepsi antara lain:
1)   Kesalahan memotong
2)   Cara mengikat tidak sempurna, cepat atau terlalu keras
3)   Duplikasi vas diferent (kelainan bawaan)
4)   Bersenggama sebelum sperma betul-betul negatif
5)   Adanya penyambungan kembali dari ujung-ujung vas diferent yang dipotong.  

      C.   Data Fokus
1.    Wawancara
a.    Jumlah anak yang direncanakan
b.    Adakah masalah dalam kehamilan yang lalu seperti mual-mual dan lain-lain ?
c.    Apakah ibu pernah menggunakan alat kontrasepsi sebelumnya?
d.    Adakah keluhan dalam penggunaan kontrasepsi: mual, pendarahan, nyeri saat berhubungan, infeksi atau haid tidak teratur dan sebagainya
e.    Riwayat social: adakah pantangan yang berkaitan dengan budaya /kultur, kebiasaan merokok
f.     Harapan pada jenis kelamin anak tertentu
g.    Riwayat menstruasi, KB hormonal biasanya menyebabkan gangguan siklus haid seperti amenore, spotting, metroragia,
2.    Pemeriksaan Fisik
a.    Keadaan umum: adakah tanda-tanda ibu sedang sakit yang tampak dari anemia, kelemahan, berat badan/tinggi badan,
b.    Tanda – tanda vital : Tekanan Darah biasanya tinggi, Efek dari hormonal, Nadi cepat, Napas terkadang sesak, suhu terkadang tinggi karena respon tubuh terhadap pemasangan AKDR.
c.    Muka periksa adanya oedema, jerawat, hyperpigmentasi (efek hormonal).
d.    Kardiovaskuler : Palpitasi.
e.    Dada : pernapasan kadang sesak.
f.     Payudara : hyperpigmentasi
g.    Abdomen : nyeri, mules, muntah-muntah, mual (efek AKDR)
h.    Vagina : Periksa adakah blood show, keluar darah pervaginam, varises, ukuran uterus yang mengalami kelainan
i.     Ekstremitas : Adakah edema, varises pada ekstrimitas, bekas insisi post pemasangan implant pada tangan atas.
3.    Pemeriksaan Penunjang
Hampir tidak ada pemeriksaan penunjang kecuali ada riwayat perdarahan, maka diperiksa:
a.    Hb, biasanya < 10gr/dl
b.    Trombosit (biasanya normal / turun bila perdarahan hebat)
c.    Leukosit (biasanya sedikit meningkat >10000/mm3)
4.    Pemeriksaan Psikososial
a.    Pastikan keinginan KB dari klien dan suami tanpa paksaan
b.    Adakah keyakinan / pandangan terkait dengan penggunaan kontrasepsi
c.    Adakah ketakutan dengan prosedur pemasangan alat kontrasepsi
d.    Status kesehatan ibu, sosial budayanya terkait dengan hal ini tingkat penghasilan, pengetahuan dan jarak dengan tempat pelayanan kesehatan untuk kontrol lainnya.

       D.   Analisa Data
No
Data
Etiologi
Masalah
1
DS= Klien mengatakan bingung untuk memilih alat kontrasepsi

DO= Klien bertanya pada petugas kesehatan

Kurang Informasi


Tentang pengetahuan terkait dengan KB


Klien bingung dengan alat kontrasepsi


Ketidakmampuan memilih alat kontrasepsi

Ketidakmampuan memilih alat kontrasepsi
2







DS= Klien mengatakan haid tidak teratur

DO= Klien menggunakan alat kontrasepsi pil



Proses adaftasi hormonal


Ketidakseimbangan hormon progresteron dan estrogen


Haid tidak teratur/spotting


Perubahan pola haid
Perubahan pola haid





3







DS= Klien mengatakan khawatir untuk menggunakan alat kontrasepsi




Penggunaan alat kontrasepsi


Adanya efek samping dari kontrasepsi


Haid tidak teratur/spotting


Perubahan pola haid


cemas
cemas





4







DS= Klien mengatakan sejak menggunakan kontrasepsi pil banyak bintik-bintik hitam dan jerawat dimuka

DO= Klien akseptor KB pil



Akseptor KB Pil


Berisi hormon progresteron dan estrogen


Keseimbangan progresteron dan estrogen terganggu


Timbul gajala-gejala sampingan


Pigmentasi  dan jerawat pada muka, badan menjadi gemuk


Gangguan body image

Gangguan konsep diri:
Body image





5.
Ds = klien mengeluh sakit di daerah insisi
Do = kulit lebam, pembengkakan di daerah insisi, kemerahan di daerah insisi,
Tindakan operasi (MOW/MOP) dan implant


Pemajanan luka diluar


Bila klien kurang perhatikan hygiene


Media yng baik untuk mikroorganisme tumbuh


Resiko infeksi
Resiko infeksi

F.  Diagnosa Keperawatan
1.    Perubahan pola haid, spotting haid b.d Proses adaftasi hormonal ditandai dengan klien mengatakan haid tidak teratur
2.  Ketidakmampuan memilih alat kontrasepsi yang efektif b.d kurangnya informasi akan pengetahuan tentang KB ditandai dengan klien banyak bertanya.
3.  Cemas b.d terjadinya efek samping dari alat kontrasepsi tertentu ditandai dengan klien mengatakan khawatir untuk menggunakan alat kontrasepsi.
4.    Gangguan konsep diri b.d timbul gejala-gejala sampingan (pigmentasi dan jerawat pada muka) ditandai dengan klien mengatakan sejak menggunakan alat kontrasepsi pil banyak bintik-bintik hitam dan jerawat pada muka.
5.    Resiko infeksi berhubungn dengan pemajanan luka insisi ditandai dengan klien mengeluh sakit di daerah insisi, kulit lebam, pembengkakan di daerah insisi, kemerahan di daerah insisi,

G. Intervensi Keperawatan

NO
Tujuan
Intervensi
Rasional
1







Tujuan Jangka Panjang: Dalam jangka waktu 2 bulan pola haid normal

Tujuan jangka pendek: dalam waktu 1 bulan haid kembali normal dengan kriteria:
·   Sifat darah haid kembali pada siklus awal/biasa
·   Tidak ada spotting haid yang berulang
-           
1. Kaji lamanya dan banyaknya spotting






2. Jelaskan pada ibu efek samping alat kontrasepsi AKDR dan hormonal pada hari-hari pertama pemakaian alat kontrasepsi.




3. Observasi untuk pemeriksaan lab, Hb, Leukosit, trombosit, Ht.



4. Konsul ke dokter bila keluhan menjadi berat           
1.Untuk mengetahui siklus haid dan mengetahui lamanya haid dan jumlah perdarahan pada saat haid

2. Pada hari-hari pertama pemakaian alat kontrasepsi AKDR dan hormonal biasanya terjadi efek samping dari kontrasepsi tersebut

3.Data penunjang dapat mengetahui kadar keseimbangan hormon

4.Untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut
2







Tujuan Jangka Panjang: Klien memilih alat kontrasepsi yang efektif untuk kesehatannya.

Tujuan jangka pendek: setelah diberi penjelasan klien dapat memilih alat kontrasepsi yang efektif  dengan kriteria:
Klien dapat memilih salah satu alat KB yang sesuai dengan kondisinya untuk menunda  kehamilan (pil, suntik, pantang berkala) untuk menjarangkan kehamilan (AKDR, suntik), mengakhiri/menjaga kesehatan (MOW, WOP)

Kaji tingkat pengetahuan klien tentang alat kontrasepsi yang sesuai dengan kondisinya


Jelaskan pada klien tentang efektivitas, efisiensi dari masing-masing alat kontrasepsi, keuntungan, kerugian,indikasi dan kontraindikasi

Berikan pendidikan kesehatan kepada klien beserta suaminya untuk menentukan pilihan kontrasepsi yang mereka inginkan
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien agar dapat menentukan intervensi selanjutnya:

Memberikan gambaran tentang alat-alat kontrasepsi



  

KB yang diinginkan akan sesuai dengan kondisi suami istri

3







Tujuan Jangka Panjang: Kecemasan dapat dikurangi/dikontrol


Tujuan jangka pendek: setelah diberi penjelasan  kecemasan berkurang dengan kriteria:
Klien tampak tenang dan dapat memahami efek samping penggunaan alat kontrasepsi.
Klien kooperatif dan mau bekerjasama dalam pemasangan alat kontrasepsi
Kaji tingkatan cemas



Jelaskan pada klien tentang efek samping dari alat kontrasepsi





Berikan kesempatan pada ibu untuk bertanya tentang kerugian  alat kontrasepsi

Berikan support psikososial kepada klien terhadap pemasangan alat kontrasepsi

Untuk mengetahui tingkat kecemasan klien

Sebagai pengetahuan klien, supaya klien dapat memilih salah satu alat kontrasepsi yang sesuai dengan kondisinya

Dapat menurunkan kecemasan klien dalam memilih alat kontrasepsi

Supaya klien dapat beradaftasi terhadap pemasangan alat kontrasepsi pada minggu awal pemasangan
4







Tujuan Jangka Panjang: klien tidak merasa malu dengan keadaanya

Tujuan jangka pendek: klien merasa percaya diri dengan keadaanya  dengan kriteria:
Tidak malu untuk bergaul

Jelaskan efek samping dari KB pil



Anjurkan klien untuk konsultasi dengan spesialis kulit


Menambah wawasan /pengetahuan bagi klien

Untuk mempercepat informasi lebih untuk menntukan intervensi selanjutnya

5.
Tupan:
Infeksi dapat dicegah

Tupen:
Dalam 2 x 24 jam tidak ada tanda infeksi dengan kriteria:
- Luka kering
Tidak ada tanda infeksi
-Beritahu klien bahwa selama 48 jam pertama daerah insisi harus dibiarkan kering






- Jelaskan efek dari pemsangan implant, MOW/MOP secara langsung seperti lebam dan rasa perih

-      Hindari benturan, gesekan dan penekanan di daerah insisi


-Balutan jangan dibuka dalam 48 jam, plester dipertahankan hingga luka sembuh (biasanya 5 hari)

-Anjurkan klien kembali ke klinik jika ada tanda infeksi seperti demam, peradangan selama beberapa hari

-Kolaborasi pemberian terafi antibiotik 
-Balutan yang basah merupakan media yang baik untuk pertumbuhan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme

-  Lebam dan perih bukan indikasi infeksi jika hilang dalam beberapa hari



-Untuk mencegah terjadinya trauma berlebih selain dari tempat insisi

-Dapat mencegah ekspulsi batang implant, cara memungkinkan menyebabkan infeksi


-     Memungkinkan klien mendapat pertolongan lebih dini untuk mencegah kondisi lebih buruk


-     Antibiotik untuk mencegah infeksi



DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI, 2000. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dalam Konteks Keluarga. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan, Jakarta 
_________, 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal,  Jakarta.

Herti, 2007. Cara Tepat Memilih Alat Kontrasepsi Keluarga Berencana Yang Tepat Bagi Wanita. http://www.depkes.co.id/

Notodohardjo, 2003, reproduksi Kontrasepsi dan Keluarga Berencana, Jakarta

Robert Prihardjo, 1996, Pengkajian Fisik Keperawatan, EGC, Jakarta

Saifudin,A. 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.

Suririnah, Dr. 2005. Beberapa Metode Kontrasepsi Atau KB. http://www.info ibu.com//

7 comments:

  1. halo admin, saya sangat suka artikel anda sangat informatif, eh, admin saya bisa gak konsultasi :::::::: kalau bisa sebelum nya trimz yah :: 082121892666

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam sehat..
      Halo juga papah qiqi...
      sebelumnya saya ucapkan terimaksih atas kunjungannya dan maaf baru saya balas,,,
      Untuk konsultasi silahkan, InsyaAlloh saya akan bantu semampunya, bisa melalui blog ini atau fans page di : https://www.facebook.com/pages/macrofagblogspotcom/497356683645704 ,,
      Smoga kita dibberikan KESEHATAN lahir & batin...

      Delete
  2. @uciha itachi
    artikelnya bagus banget dan bermanfaat . i like .
    tapi saya mau nanya , kalau sebagai pemula menggunakan pil kb , dan langsung minum pil placebo (warna putih) 7 hari berturut-turut lalu pil aktif (warna kuning) < tp sebelum nminum pil placebo, saya sdang tdk haid . itu gimana ? trimss..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam Sehat,,
      Sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas kunjungannya,,
      Untuk pil KB baiknya dimulai dalam 7 hari pertama haid, paling baik hari pertama haid, tapi jika terlanjur diminum saat haid sudah berhenti, saya anjurkan pemakaian kondom atau spermisida selama 7 hari pertama menelan pil tujuannya sebagai pencegahan ganda...

      Delete

DUNIA KEPERAWATAN. Powered by Blogger.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Search

Exit Jangan Lupa Klik Like & Follow Ya!!