PESAN SEGERA

Dengan 50rb dapatkan : 1 ASKEP atau, 2 SAP+2Leaflet, atau 2 Artikel, atau 3 Askep Persentation dan Terima Pesanan

Monday, March 4, 2013

Model Konsep Madeline Leiningger

DUNIA KEPERAWATAN | 12:20 PM |

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Banyak model konseptual dan teori yang telah dikembangkan para ahli keperawatan, dimana teori dan model konseptual merupakan suatu cara untuk memandang, menilai situasi kerja yang menjadi petunjuk bagi perawat dalam mendapatkan informasi untuk menjadikan perawat peka terhadap apa yang terjadi dan apa yang harus dia lakukan.
Teori-teori keperawatan juga digunakan dalam praktik, penelitian dan proses belajar-mengajar dalam bidang keperawatan sehingga perlu diperkenalkan, dikaji dan dikembangkan untuk memperkuat profesi keperawatan.
Perawat perlu memiliki latar belakang pengetahuan baik secara teoritis maupun empiris terhadap teori-teori keperawatan yang ada sehingga perawat dapat memahami dan mengaplikasikan teori-teori tersebut dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada klien sesuai keadaannya.
Salah satu teori keperawatan yang ada adalah teori keperawatan yang dikembangkan oleh Madeleine Leininger yang lebih dikenal dengan teori “Trans Cultural”.
B.     Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah : menyajikan teori model keperawatan “Trans Cultural” dan analisis model keperawatan dari Madeleine Leininger
C.    Sistematika Penulisan
Bab I Pendahuluan yang berisikan latar belakang, tujuan penulisan dan sistematika penulisan, Bab II Konsep Model Madeleine Leininger , Bab III Analisis Teori Leininger, BAB IV Penutup meliputi kesimpulan dan saran.
BABII
PEMBAHASAN

A. Sejarah Teori Culture Care
Madeline Leininger adalah pelopor keperawatan transkultural dan seorang pemimpin dalam keperawatan transkultural serta teori asuhan keperawatan yang berfokus pada manusia. Ia adalah perawat professional pertama yang meraih pendidikan doctor dalam ilmu antropologi social dan budaya. Dia lahir di Sutton, Nebraska, dan memulai karir keperawatannya setelah tamat dari program diploma di “St. Anthony’s School of Nursing” di Denver.

Tahun 1950 ia meraih gelar sarjana dalam ilmu biologi dari “Benedictine College, Atchison Kansas” dengan peminatan pada studi filosofi dan humanistik. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut ia bekerja sebagai instruktur, staf perawatan dan kepela perawatan pada unit medikal bedah sererta membuka sebuah unit perawatan psikiatri yang baru dimana ia menjadi seorang direktur pelayanan keperawatan pada St. Joseph’s Hospital di Omaha. Selama waktu ini ia melanjutkan pendidikan keperawatannya di ”Creigthton University ” di Omaha. Tahun 1954 Leininger meraih gelar M.S.N. dalam keperawatan psikiatrik dari ” Chatolic University of America” di Washington, D. C. Ia kemudian bekerja pada ”College of Health” di Univercity of Cincinnati, dimana ia menjadi lulusan pertama (M. S. N ) pada program spesialis keperawatan psikiatrik anak . Ia juga memimpin suatu program pendidikan keperawatan psikiatri di universitas tersebut dan juga sebagai pimpinan dalam pusat terapi perawatan psikiatri di rumah sakit milik universitas tersebut.
Pada tahun 1960, Leininger bersama C. Hofling menulis sebuah buku yang diberi judul ” Basic Psiciatric Nursing Consept” yang dipublikasikan ke dalam sebelas bahasa dan digunakan secara luas di seluruh dunia. Selama bekerja pada unit perawatan anak di Cincinnati, Leininger menemukan bahwa banyak staff yang kurang memahami mengenai faktor-faktor budaya yang mempengaruhi perilaku anak-anak. Dimana diantara anak-anak ini memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Ia mengobservasi perbedaan- perbedaan yang terdapat dalam asuhan dan penanganan psikiatri pada anak-anak tersebut. Terapi psikoanalisa dan terapi strategi lainnya sepertinya tidak menyentuh anak-anak yang memiliki perbedaan latar belakang budaya dan keutuhan.
Leininger melihat bahwa para perawat lain juga tidak menampilkan suatu asuhan yang benar-benar adequat dalam  menolong anak tersebut, dan ia dihadapkan pada berbagai pertanyaan mengenai perbedaan budaya diantara anak-anak tersebut dan hasil terapi yang didapatkan. Ia juga menemukan hanya sedikit staff yang memiliki perhatian dan pengetahuan mengenai faktor-faktor budaya dalam mendiagnosa dan manangani klien.
Pada satu ketika, Prof. Margaret Mead berkunjung pada departemen psikiatri University of Cincinnati dan Leiniger berdiskusi dengan Mead mengenai adanya kemungkinan hubungan antara keperawatan dan antropologi. Meskipun ia tidak mendapatkan bantuan langsung, dorongan, solusi dari Mead , Leininger memutuskan untuk melanjutkan studinya ke program doktor (Ph.D) yang berfokus pada kebudayaan, sosial, dan antropologi psikologi pada Universitas Washington.
Sebagai seorang mahasiswa program doktor, Leininger mempelajari berbagai macam kebudayaan dan menemukan bahwa pelajaran antroplogi itu sangat menarik dan merupakan area yang perlu diminati oleh seluruh perawat. Kemudia ia menfokuskan diri pada masyarakat Gadsup di Eastern Highland of New Guinea, dimana ia tinggal bersama masyarakat tersebut selama hampir dua tahun. Dia dapat mengobservasi bukan hanya gambaran unik dari kebudayaan melainkan perbedaan antara kebudayaan masyarakat barat dan non barat terkait dengan praktek dan asuhan keperawatan untuk mempertahankan kesehatan. Dari studinya yang dalam dan pengalaman pertama dengan masyarakat Gadsup, ia terus mengembangkan teori perawatan kulturalnya dan metode ethno nursing. Teori dan penelitiannya telah membantu mahasiswa keperawatan untuk memahami perbedaan budaya dalam perawatan manusia, kesehatan dan penyakit. Dia telah menjadi pemimpin utama perawat yang mendorong banyak mahasiswa dan fakultas untuk melanjutkan studi dalam bidang anthropologi dan menghubungkan pengetahuan ini kedalam praktik dan pendidikan keperawatan transkultural. Antusiasme dan perhatiannya yang mendalam terhadap pengembangan bidang perawatan transkultural dengan fokus perawatan pada manusia telah menyokong dirinya selama 4 dekade.
Tahun 1950-an sampai 1960-an, Leininger mengidentifikasi beberapa area umum dari pengetahuan dan penelitian antara perawatan dan anthropologi formulasi konsep keperawatan transkultural, praktek dan prinsip teori. Bukunya yang berjudul Nursing and anthropology : Two Words to Blend ; yang merupakan buku pertama dalam keperawatan transkultural, menjadi dasar untuk pengembangan bidang keperawatan transkultural, dan kebudayaan yang mendasari perawatan kesehatan. Buku yang berikutnya, ”Transcultural Nursing : Concepts, theories, research, and practise (1978 )” , mengidentifikasi konsep mayor, ide-ide teoritis, praktek dalam keperawatan transkultural, bukti ini merupakan publikasi definitif pertama dalam praktek perawatan treanskultural. Dalam tulisannya, dia menunjukkan bahwa perawatan treanskultural dan anthropologi bersifat saling melengkapi satu sama lain, menkipun berbeda. Teori dan kerangka konsepnya mengenai Cultural care diversity and universality dijelaskan dalam buku ini.
Sebagai perawat profesional pertama yang melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor dalam bidang antropologi dan untuk memprakarsai beberapa program pendidikan magister dan doktor, Leininger memiliki banyak bidang keahlian dan perhatian. Ia telah memepelajari 14 kebudayaan mayor secara lebih mendalam dan telah memiliki pengalaman dengan berbagai kebudayaan. Disamping perawatan transkultural dengan asuhan keperawatan sebagai fokus utama , bidang lain yang menjadi perhatiannya adalah administrasi dan pendidikan komparatif, teori-teori keperawatan, politik, dilema etik keperawatan dan perawatan kesehatan, metoda riset kualitatif, masa depan keperawatan dan keperawatan kesehatan, serta kepemimpinan keperawatan. Theory of Culture Care saat ini digunakan secara luas dan tumbuh secara relevan serta penting untuk memperoleh data kebudayaan yang mendasar dari kebudayaan yang berbeda.

B. Paradigma Keperawatan
1.      Manusia
Manusia adalah individu atau kelompok yamg memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menentukan pilihan serta melakukan tindakan. Menurut Leininger, manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapun ia berada.
2.      Kesehatan
Kesehatan mengacu pada keadaan kesejahteraan yang didefinisikan secara kultural memiliki nilai dan praktek serta merefleksikan kemampuan individu maupun kelompok untuk menampilkan kegiatan budaya mereka sehari-hari, keuntungan dan pola hidup.
3.      Lingkungan
Lingkungan mengacu pada totalitas dari suatu keadaan, situasi, atau pengalaman-pengalaman yang memberikan arti bagi perilaku manusia, interpretasi, dan interaksi sosial dalam lingkungan fisik, ekologi, sosial politik, dan atau susunan kebudayaan.
4.      Keperawatan
Keperawatan mengacu kepada suatu pembelajaran humanistik dan profesi keilmuan serta disiplin yang difokuskan pada aktivitas dan fenomena perawatan manusia yang bertujuan untuk membantu, memberikan dukungan, menfasilitasi, atau memampukan individu maupun kelompok untuk memperoleh kesehatan mereka dalam cara yang menguntungkan yang berdasarkan pada kebudayaan atau untuk menolong orang-orang agar mampu menghadapi rintangan dan kematian.

C. Teori Keperawatan Leininger
Teori ini diambil dari disiplin ilmu antropologi dan keperawatan. Ia mendefinsikan keperawatan transkultural sebagai bagian utama dari keperawatan yang berfokus pada studi perbandingan dan analisa perbedaan budaya serta bagian budaya di dunia dengan tetap menghargai nilai-nilai asuhan, pengalaman sehat sakit dan juga kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat.
1.      Konsep Utama dan definisi teori Leininger
a.       Care mengacu kepeada suatu fenomena abstrak dan konkrit yang berhubungan dengan pemberian bantuan, dukungan, atau memungkinkan pemberian pengalaman maupun perilaku kepada orang lain sesuai dengan kebutuhannya dan bertujuan untuk memperbaiki kondisi maupun cara hidup manusia.
b.      ”Caring”, mengacu kepada suatu tindakan dan aktivitas yang ditujukan secara langsung dalam pemberian bantuan, dukungan, atau memungkinkan individu lain dan kelompok didalam memenuhi kebutuhannya untuk memperbaiki kondisi kehidupan manusia atau dalam menghadapi kematian.
c.       Kebudayaan merupakan suatu pembelajaran, pembagian dan transmisis nilai, keyakinan, norma-norma, dan gaya hidup dalam suatu kelompok tertentu yang memberikan arahan kepada cara berfikir mereka, pengambilan keputusan, dan tindakkan dalam pola hidup.
d.      Kultural mengacu kepada pembelajaran subjektif dan objektif dan transmisi nilai, keyakinan, pola hidup yang membantu, mendukung, memfasilitasi atau memungkinkan ndividu lain maupun kelompok untuk mempertahankan kesjahteraan mereka, kesehatan, serta untuk memperbaiki kondisi kehidupan manusia atau untuk memampukan manusia dalam menghadapi penyakit, rintangan dan juga kematian.
e.       Lingkungan mengacu pada totalitas dari suatu keadaan, situasi, atau pengalaman-pengalaman yang memberikan arti bagi perilaku manusia, interpretasi, dan interaksi sosial dalam lingkungan fisik, ekologi, sosial politik, dan atau susunan kebudayaan.
f.       ”Etnohistory ” mengacu kepada keseluruhan fakta-fakta pada waktu yang lampau, kejadian-kejadian, dan pengalaman individu, kelompok, kebudayaan serta suatu institusi yang difokuskan kepada manusia/masyarakat yang menggambarkan, menjelaskan dan menginterpretasikan cara hidup manusia dalam suatu bentuk kebudayaan tertentu dalam jangka waktu yang panjang maupun pendek.
g.      Kesehatan mengacu pada keadaan kesejahteraan yang didefinisikan secara kultural memiliki nilai dan praktek serta merefleksikan kemampuan individu maupun kelompok untuk menampilkan kegiatan budaya mereka sehari-hari, keuntungan dan pola hidup
h.      Negosiasi atau akomodasi perawatan kultural mengacu pada semua bantuan, dukungan, fasilitas, atau pembuatan keputusan dan tindakan kreatifitas profesional yang memungkinkan yang menolong masyarakat sesuai dengan adaptasi kebudayaan mereka atau untuk bernegosiasi dengan fihak lain untuk mencapai hasil kesehatan yang menguntungkan dan memuaskan melalui petugas perawatan yang profesional
i.        Restrukturisasi transkultural mengacu pada seluruh bantuan, dukungan, fasilitas atau keputusan dan tindakan profesional yang dapat menolong klien untuk mengubah atau memodifikasi cara hidup mereka agar lebih baik dan memperoleh pola perawatan yang lebih menguntungkan dengan menghargai keyakinan dan nilai yang dimiliki klien sesuai dengan budayanya.

2.      Asumsi Mayor
Asumsi mayor untuk mendukung teory cultural care : diversity and universality yang dikembangkan oleh Leininger :
a.       “Care” adalah esensi keperawatan serta focus yang mempersatukan perbedaan sentral dan dominant dalam suatu pelayanan.
b.      Perawatan (Caring) yang didasarkan pada kebudayaan adalah sutau aspek esensial unuk memperoleh kesejahteraan, kesehatan, pertumbuhan dan ketahanan, serta kemampuan untuk enghadapi rinangan maupun kematian.
c.       Perawatan yang berdasarkan budaya adalah bagian yang paling komprehensif dan holistic untuk mengetahui, menjelaskan, menginterprestasikan dan memprediksikan fenomena asuhan keperawatan serta memberikan panduan dalam pengambilan keputusan dan tindakan perawatan.
d.      Keperawatan traskultural adalah disiplin ilmu perawatan humanistic dan profesi yang memiliki tujuan utama untuk melayani individu, dan kelompok.
e.       Konsep keperawatan cultural, arti, ekspresi, pola-pola, proses dan struktur dari bentuk perawatan transkultural yang beragam dengan perbedaan dan persamaan yang ada.
f.       Praktek perawatan keyakinan dan nilai budaya dipengaruhi oleh dan cenderung tertanam dalam pandangan dunia, bahasa, filosofi, agama, kekeluargaan, sosial, politik, pendidikan, ekonomi, teknologi, etnohistory, dan lingkungan kebudayaan.
g.      Keuntungan, kesehatan dan kepuasan terhadap budaya perawatan mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan individu, keluarga, kelompok, komunitas di dalam lingkungannya.
h.      Kebudayaan dan keperawatan yang konggruen dapat terwujud apabila pola-pola, ekspresi dan nilai-nilai perawatan digunakan secara tepat, aman dan bermakna.

3.      Esensi keperawatan dan kesehatan
a.       Perbedaan-perbedaan interkultural terhadap keyakinan kepetrawatan, nilai dan praktek akan merefleksikan perbedaan kemampuan identifikasi dan praktek asuhan keperawatan yang bersifat umum.
b.      Kebudayaan yang memiliki nilai individualisme yang tinggi dengan model independen akan menunjukan tanda-tanda dari nilai dan praktek keperawatan diri, dimana kebudayaan yang tidak memiliki nilai individualisme dan independen akan menunjukan tanda terbatas dan praktek keperawatan diri.
c.       Jika terdapat hubungan yang erat antara praktek dan keyakinan pemberi dan penerima pelayanan praktek keperawatan , hasil yang diperoleh klien akan dapat ditingkatkan dan lebih memuaskan .
d.      Klien dari kebudayaan yang berbeda dapat mengidentifikasi nilai caring dan non caring mereka serta keyakinan terhadap ethnonursing.
e.       Perbedaan utama antara nilai perawatan tradisional dengan perawatan profesional, merupakan tanda dari konflik budaya antara pemberi pelayanan kesehatan profesional dan klien.
f.       Praktek dan tindakan caring yang diterapkan dengan menggunakan teknologi berbeda secara kultural dan memiliki perbedaan terhadap hasil dalam pencapaian kesehatan dan kesejahteraan klien.
g.      Tanda terpenting dari ketergantungan perawat terhadap teknologi merupakan tanda dari depersonalisasi asuhan keperawatn humanistik pada klien.
h.      Bentuk simbolis dan fungsi ritual dari praktek dan perilaku asuhan keperawatan memiliki hasil dan makna berbeda dalam kebudayaan yang berbeda.
i.        Politik, agama, ekonomi, hubungan kekeluargaan, nilai budaya dan lingkungan memberikan pengaruh yang besar terhadap praktek budaya untuk mencapai kesejahteraan individu, keluarga dan kelompok.

4.      Konsep kebudayaan menurut Leininger dalam buku Transcutural Nursing; concepts, theories and practices (1978 & 1995).
a.       Kebudayaan yang mempersepsikan penyakit ke dalam bentuk pengalaman tubuh internal dan bersifat personal (contohnya yang disebabkan oleh kondisi fisik, genetic,stress dalam tubuh) lebih cenderung menggunakan teknik dan metode keperawatan diri secara fisik dari pada melakukan perawatan berdasarkan budaya yang memandang penyakit sebagai suatu keyakinan kultural dan ekstra personal serta pengalaman budaya secara langsung.
b.      Budaya sangat menekankan proses, prilaku dan nilai perawatan (caring), memegang peranan yang lebih cenderung dilakukan wanita daripada pria.
c.       Kebudayaan yang menekankan pada prilaku dan proses pengobatan (caring) cenderung dilaksanakan oleh pria daripada wanita.
d.      Klien (masyarakat umum / tradisional) yang membutuhkan pelayanan keperawatan (caring), pertama sekali cenderung untuk mencari bantuan dari pihak keluarga maupun relasinya dalam mengatasi masalahnya, baru kemudian mencari pemberi pelayanan kesehatan professional apabila orang-orang terdekatnya tidak mampu memeberikan kondisi yang efektif, keadaan klien semakin memburuk atau jika terjadi kematian.
e.       Kegiatan perawatan yang banyak dipraktekkan di masyarakat (ethno caring activities), yang memiliki keuntungan terapeutik bagi klien dan keluarganya, kurang dipahami oleh kebanyakan perawat professional di Werstern.
f.       Jika terdapat prilaku perawatan yang efektif dalam suatu kebudayaan maka kebutuhan pengobatan dan pelayanan dari petugas professional akan berkurang.
g.      Perbedaan mendasar antara praktek keperawatan tradisional dan professional mengakibatkan konflik budaya dan membebani praktek keperawatan.
h.      Perawatan transkultural akan mempersiapkan perawat untuk dapat menyusun asuhan keperawatan pada setiap budaya yang berbeda, dan dapat menentukan hasil yang tepat sesuai dengan kebudayaan klien tersebut.
i.        Keberhasilan dalam perawatan kesehatan akan sulit dicapai apabila pemberi pelayanan tersebut tidak menggunakan pengetahuan dan praktek yang didasarkan atas keyakinan dan nilai budaya klien.

5.      The Sunrise Model ( Model matahari terbit)
Matahari terbit sebagai lambang/ symbol perawatan. Suatu kekuatan untuk memulai pada puncak dari model ini dengan pandangan dunia dan keistimewaan struktur sosial untuk mempertimbangkan arah yang membuka pikiran yang mana ini dapat mempengaruhi kesehatan dan perawatan atau menjadi dasar untuk menyelidiki berfokus pada keperawatan profesional dan sistem perawatan kesehatan secara umum. Anak panah berarti mempengaruhi tetapi tidak menjadi penyebab atau garis hubungan. Garis putus-putus pada model ini mengindikasikan sistem terbuka. Model ini menggambarkan bahwa tubuh manusia tidak terpisahkan/tidak dapat dipisahkan dari budaya mereka.
Suatu hal yang perlu diketahui bahwa masalah dan intervensi keperawatan tidak tampak pada teori dan model ini. Tujuan yang hendak dikemukakan oleh Leininger adalah agar seluruh terminologi tersebut dapat diasosiasikan oleh perawatan profesional lainya. Intervensi keperawatan ini dipilih tanpa menilai cara hidup klien atau nilai-nilai yang akan dipersepsikan sebagai suatu gangguan, demikian juga masalah keperawatan tidak selalu sesuai dengan apa yang menjadi pandangan klien. Model ini merupakan suatu alat yang produktif untuk memberikan panduan dalam pengkajian dan perawatan yang sejalan dengan kebudayan serta penelitian ilmiah.
Leininger Sunrise Model merupakan pengembangan dari konseptual model asuhan keperawatan transkultural. Terdapat 7 (tujuh) komponen dalam sunrise model tersebut, yaitu :
1.        Faktor Teknologi ( Technological Factors )
Teknologi kesehatan adalah sarana yang memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat penawaran untuk menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Berkaitan dengan pemanfatan teknologi kesehatan, maka perawat perlu mengkaji berupa persepsi individu tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini, alasan mencari kesehatan, persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan.
2.        Faktor keagamaan dan falsafah hidup ( Religous and Philosofical Factors)
Agama adalah suatu sistem simbol yang mengakibatkan pandangan dan motivasi yang realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi kuat sekali untuk menempatkan kebenarannya di atas segalanya bahkan di atas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang perlu dikaji perawat seperti : agama yang dianut, kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap kesehatan, berikhtiar untuk sembuh tanpa mengenal putus asa, mempunyai konsep diri yang utuh.
3.        Faktor sosial dan keterikatan keluarga (Kinship and Social Factors)
Faktor sosial dan kekeluargaan yang perlu dikaji oleh perawat : nama lengkap dan nama panggilan dalam keluarga, umur atau tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam anggota keluarga, hubungan klien dengan kepala keluarga, kebiasaan yang dilakukan rutin oleh keluarga.
4.        Faktor nilai budaya dan gaya hidup (Cultural Values and Lifeways)
Nilai adalah konsepsi-konsepsi abstrak di dalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik dan buruk. Hal-hal yang perlu dikaji berhubungan dengan nilai-nilai budaya dan gaya hidup adalah posisi dan jabatan, bahasa yang digunakan, kebiasaan membersihkan diri, kebiasaan makan, makan pantang berkaitan dengan kondisi sakit, sarana hiburan yang dimanfaatkan dan persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari.
5.        Faktor peraturan dan kebijakan (Polithical and Legal Factor)
Peraturan dan kebijakan yang berlaku adalah segala sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan transkultural. Misalnya peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang menunggu.
6.        Faktor ekonomi ( Economical Faktor )
Klien yang dirawat dapat memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. Sumber ekonomi yang ada pada umumnya dimanfaatkan klien antara lain asurannsi, biaya kantor, tabungan. Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat antara lain seperti pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan.
7.        Faktor pendidikan (Educational Factor)
Latar belakang pendidikan individu adalah pengalaman individu dalam menmpuh jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan individu, maka keyakinannya harus didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang rasional dan dapat beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Perawat perlu mengkaji latar belakang pendidikan meliputi tingkat pendidikan, jenis pendidikan, serta kemampuan belajar secara aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.



BAB III
ANALISA TEORI

A.    Kelebihan :
1.      Teori ini bersifat komprehensif dan holistik yang dapat memberikan pengetahuan kepada perawat dalam pemberian asuhan dengan latar belakang budaya yang berbeda.
2.      Teori ini sangat berguna pada setiap kondisi perawatan untuk memaksimalkan pelaksanaan model-model teori lainnya (teori Orem, King, Roy, dll).
3.      Penggunakan teori ini dapat mengatasi hambatan faktor budaya yang akan berdampak terhadap pasien, staf keperawatan dan terhadap rumah sakit.
4.      Penggunanan teori trancultural dapat membantu perawat untuk membuat keputusan yang kompeten dalam memberikan asuhan keperawatan.
5.      Teori ini banyak digunakan sebagai acuan dalam penelitian dan pengembangan praktek keperawatan .

B.     Kelemahan :
1.      Teori transcultural bersifat sangat luas sehingga tidak bisa berdiri sendiri dan hanya digunakan sebagai pendamping dari berbagai macam konseptual model lainnya.
2.      Teori transcultural ini tidak mempunyai intervensi spesifik dalam mengatasi masalah keperawatan sehingga perlu dipadukan dengan model teori lainnya


BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Teori ini dapat digunakan dalam memberikan asuhan keperawatan dengan mempertimbangkan aspek budaya, nilai –nilai, norma dan agama.
2.      Teori ini dapat digunakan untuk melengkapi teori konseptual yang lain dalam praktik asuhan keperawatan.
B.     Saran
1.      Penerapan teori Leinienger diperlukan pengetahuan dan pemahaman tentang ilmu antropologi agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang baik.
2.      Pelaksanaan teori Leinienger memerlukan penggabungan dari teori keperawatan yang lain yang terkait, seperti teori adaptasi, self care dan lain-lain.



DAFTAR PUSTAKA
Carol Taylor, Carol Lillis. (1997). Fundamentals of Nursing : the art and science of nursing care. Vol I 3ed , Philadelphia, Lippincott.
Chinn & Jacobs. (1983). Theory and Nursing a systematic approach. St. Louis : Mosby Company.
Folley, Regina & Wurmser, Theresa A (2004). Culture Diversity/A Mobile Worksforce Command Creative Leadership, New Patterships, and Inovative Approaces to Integration. Diambil pada 9 Oktober 2006 dari
Kozier, Barbara et al. (2000). Fundamental of Nursing : The nature of nursing practice in Canada. 1st Canadian Ed. Prentice Hall Health, Toronto.
Robinson & Kish. (2001). Edvance Practice Nursing. St. Louis : Mosby Inc.
The Basic concepts of Trancultural Nursing. Diambil pada 10 Oktober 2006 dari http://www.culturediversity.org/thirdwrld.htm.
Tomey, Ann Marriner & Alligood, Martha Raile, (1998). Nursing Theorists and their work, 4th Ed. Mosby, St. Louis.
ara� =h x p yle='margin-top:0in;margin-right:0in; margin-bottom:0in;margin-left:78.0pt;margin-bottom:.0001pt;mso-add-space:auto; text-align:justify;text-justify:inter-ideograph;line-height:200%'> 

BAB III
ANALISA TEORI

A.    Kelebihan :
1.      Teori ini bersifat komprehensif dan holistik yang dapat memberikan pengetahuan kepada perawat dalam pemberian asuhan dengan latar belakang budaya yang berbeda.
2.      Teori ini sangat berguna pada setiap kondisi perawatan untuk memaksimalkan pelaksanaan model-model teori lainnya (teori Orem, King, Roy, dll).
3.      Penggunakan teori ini dapat mengatasi hambatan faktor budaya yang akan berdampak terhadap pasien, staf keperawatan dan terhadap rumah sakit.
4.      Penggunanan teori trancultural dapat membantu perawat untuk membuat keputusan yang kompeten dalam memberikan asuhan keperawatan.
5.      Teori ini banyak digunakan sebagai acuan dalam penelitian dan pengembangan praktek keperawatan .

B.     Kelemahan :
1.      Teori transcultural bersifat sangat luas sehingga tidak bisa berdiri sendiri dan hanya digunakan sebagai pendamping dari berbagai macam konseptual model lainnya.
2.      Teori transcultural ini tidak mempunyai intervensi spesifik dalam mengatasi masalah keperawatan sehingga perlu dipadukan dengan model teori lainnya





BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Teori ini dapat digunakan dalam memberikan asuhan keperawatan dengan mempertimbangkan aspek budaya, nilai –nilai, norma dan agama.
2.      Teori ini dapat digunakan untuk melengkapi teori konseptual yang lain dalam praktik asuhan keperawatan.

B.     Saran
1.      Penerapan teori Leinienger diperlukan pengetahuan dan pemahaman tentang ilmu antropologi agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang baik.
2.      Pelaksanaan teori Leinienger memerlukan penggabungan dari teori keperawatan yang lain yang terkait, seperti teori adaptasi, self care dan lain-lain.











DAFTAR PUSTAKA

Carol Taylor, Carol Lillis. (1997). Fundamentals of Nursing : the art and science of nursing care. Vol I 3ed , Philadelphia, Lippincott.

Chinn & Jacobs. (1983). Theory and Nursing a systematic approach. St. Louis : Mosby Company.

Folley, Regina & Wurmser, Theresa A (2004). Culture Diversity/A Mobile Worksforce Command Creative Leadership, New Patterships, and Inovative Approaces to Integration. Diambil pada 9 Oktober 2006 dari
http://proquest.umi.com/pqdweb?did=650824831&sid=3&clientld=45625&RQT=309&VName

Kozier, Barbara et al. (2000). Fundamental of Nursing : The nature of nursing practice in Canada. 1st Canadian Ed. Prentice Hall Health, Toronto.

Robinson & Kish. (2001). Edvance Practice Nursing. St. Louis : Mosby Inc.

The Basic concepts of Trancultural Nursing. Diambil pada 10 Oktober 2006 dari http://www.culturediversity.org/thirdwrld.htm.

Tomey, Ann Marriner & Alligood, Martha Raile, (1998). Nursing Theorists and their work, 4th Ed. Mosby, St. Louis.

No comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Search