PESAN SEGERA

Dengan 50rb dapatkan : 1 ASKEP atau, 2 SAP+2Leaflet, atau 2 Artikel, atau 3 Askep Persentation dan Terima Pesanan

Saturday, February 23, 2013

Askep Campak

Kapevi Hatake | 9:34 PM |

BAB I
PENADAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG
Campak dalam sejarah anak telah dikenal sebagai pembunuh terbesar, meskipun adanya vaksin telah dikembangkan lebih dari 30 tahun yang lalu, virus campak ini menyerang 50 juta orang setiap tahun dan menyebabkan lebih dari 1 juta kematian. Insiden terbanyak berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas penyakit campak yaitu pada negara berkembang, meskipun masih mengenai beberapa negara maju seperti Amerika Serikat.
Campak adalah salah satu penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi dan masih masalah kesehatan di Indonesia. Penyakit ini umumnya menyerang anak umur di bawah lima tahun (Balita) akan tatapi campak bisa menyerang semua umur. Campak telah banyak diteliti, namun masih banyak terdapat perbedaan pendapat dalam penanganannya. Imunisasi yang tepat pada waktunya dan penanganan sedini mungkin akan mengurangi komplikasi penyakit ini.
B.       Rumusan masalah
1.         Apa pengertian campak?
2.         Bagaimana riwayat alamiah dari penyakit campak?
3.         Bagaimana etiologi, epidemiologi, patofisiologi dan gejala klinis penyakit campak?
4.         Bagaimana pencegahan penyakit campak?
5.         Bagaimana asuhan keperawatan campak pada anak?
C.       Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian campak
2.      Untuk mengetahui etiologi, epidemiologi dan patofisiologi dari penyakit campak
3.      Untuk mengetahui riwayat alamiah dari penyakit campak
4.      Untuk mengetahui cara pencegahan penyakit campak
5.      Mengetahui asuhan keperawatan campak pada anak
D.      Metode
Metode yang kami gunakan dalam penulisan makalah ini diantaranya melalui media literatur perpustakaan dan elektronik.
E.     Sistematika
Secara umum makalah ini terbagi menjadi tiga bagian diantaranya; BAB I tentang Pendahuluan, BAB II yang berisi Pembahasan: tinjauan teoritis, BAB III Asuhan Keperawatan dan BAB IV tentang Penutup.


BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.      Definisi
Campak yang disebut juga dengan measles atau rubeola merupakan suatu penyakit infeksi akut yang sangat menular, disebabkan oleh paramixovirus yang pada umumnya menyerang anak-anak. Penyakit ini ditularkan dari orang ke orang melalui percikan liur (droplet) yang terhirup.
Campak ialah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium yaitu: a. stadium kataral, b. stadium erupsi dan c. stadium konvalesensi.yang dimanifestasikan dengan demam, konjungtivitis dan bercak koplik ( Ilmu Kesehatann Anak Edisi 2, th 1991. FKUI ).
B.       Etiologi
Penyebabnya adalah virus morbili yang terdapat dalam sekret nasofaring dan darah sealma masa prodormal sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak. Virus ini berupa virus RNA yang termasuk famili Paramiksoviridae, genus Morbilivirus. Cara penularan dengan droplet infeksi pada masa prodormal.
C.       Epidemiologi :
Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan kekebalan seumur hidup. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita morbili akan mendapat kekebalan secara pasif (melalui plasenta) sampai umur 4-6 bulan dan setelah umur tersebut kekebalan akan mengurang sehingga si bayi dapat menderita morbili. Bila seseorang wanita hamil menderita morbili ketika ia hamil 1 atau 2 bulan, maka 50% kemungkinan akan mengalami abortus, bila ia menderita morbili pada trimester I, II, atau III maka ia akan mungkin melahirkan seorang anak dengan kelainan bawaan atau seorang anak dengan BBLR, atau lahir mati atau anak yang kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun.


D.    Riwayat Alamiah Penyakit Campak
Riwayat alamiah penyakit campak melalui tahap-tahap sebagai berikut:
1.         Tahap prepatogensis
Pada tahap ini individu berada dalam keadaan normal/sehat tetapi mereka pada dasarnya peka terhadap kemungkinan terganggu oleh serangan agen penyakit (stage of suseptibility). Walaupun demikian pada tahap ini sebenarnya telah terjadi interaksi antara penjamu dengan bibit penyakit. Tetapi interaksi ini masih terjadi di luar tubuh, dalam arti bibit penyakit masih ada diluar tubuh pejamu dimana para kuman mengembangkan potensi infektifitas, siap menyerang peniamu. Pada tahap ini belum ada tanda-tanda sakit sampai sejauh daya tahan tubuh penjamu masih kuat. Namun  begitu penjamunva ‘lengah’ ataupun memang bibit penyakit menjadi lebih ganas ditambah dengan kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan pejamu, maka keadaan segera dapat berubah. Penyakit akan melanjutkan perjalanannya memasuki fase berikutnya, tahap patogenesis.
2.         Tahap Patogenesis
Tahap ini meliputi 4 sub-tahap yaitu:
a.         Tahap Inkubasi
Masa inkubasi dari penyakit campak adalah 10-20 hari. Pada tahap ini individu masih belum merasakan bahwa dirinya sakit.
b.        Tahap Dini
Mulai timbulnya gejala dalam waktu 7-14 hari setelah terinfeksi, yaitu berupa:
1)         Panas badan
2)         nyeri tenggorokan
3)         hidung meler ( Coryza )
4)         batuk ( Cough )
5)         Bercak Koplik
6)         nyeri otot
7)         mata merah ( conjuctivitis )
c.         Tahap Lanjut
Munculnya ruam-ruam kulit yang berwarna merah bata dari mulai kecil-kecil dan jarang kemudian menjadi banyak dan menyatu seperti pulau-pulau. Ruam umumnya muncul pertama dari daerah wajah dan tengkuk, dan segera menjalar menuju dada, punggung, perut serta terakhir kaki-tangan. Pada saat ruam ini muncul, panas si anak mencapai puncaknya (bisa mencapai 40 derajad Celsius), ingus semakin banyak, hidung semakin mampat, tenggorok semakin sakit dan batuk-batuk kering dan juga disertai mata merah.
d.        Tahap Akhir.
Berakhirnya perjalanan penyakit campak. Dapat berada dalam lima pilihan keadaan yaitu:
1)        Sembuh sempurna, yakni bibit penyakit menghilang dan tubuh menjadi pulih, sehat kembali.
2)        Sembuh dengan cacat, yakni bibit penyakit menghilang, penyakit sudah tidak ada, tetapi tubuh tidak pulih sepenuhnya,
3)        meninggalkan bekas gangguan yang permanen berupa cacat.
4)        Karier, di mana tubuh penderita pulih kembali, namun penyakit masih tetap ada dalam tubuh tanpa memperlihatkan gangguan penyakit.
5)        Penyakit tetap berlangsung secara kronik.
E.       Patofisiologi :
Droplet Infection (virus masuk)
Berkembang biak dalam RES
Keluar dari RES keluar sirkulasi
Pirogen :
- pengaruhi termostat dalam hipotalamus
Titik setel termostat meningkat
Suhu tubuh meningkat
- pengaruhi nervus vagus  pusat
muntah di medula oblongata.
- muntah
- anorexia
- malaise
Mengendap pada organ-organ yang
secara embriologis berasal dari ektoderm seperti pada :
- Mukosa mulut
infiltrasi sel-sel radang mononuklear pada kelenjar sub mukosa mulut
Koplik`s spot
- Kulit
Ploriferasi sel-sel endotel kalpiler di dalam korium
Terjadi eksudasi serum dan kadang-kadang eritrsit dalam epidermis
Rash/ ruam kulit
Konjunctiva
terjadi reaksi peradangan umum
Konjuctivitis
Fotofobia
- mukosa nasofaring dan broncus
infiltrasi sel-sel sub epitel dan sel raksasa berinti banyak
Reaksi peradangan secara umum
Pembentukan eksudat serosa disertai proliferasi sel monokuler dan sejumlah kecil pori morfonuklear
Coriza/ pilek, cough/ batuk
Sal. Cerna
Hiperplasi jaringan limfoid terutama pada usus buntu  mukosa usus teriritasi  kecepatan sekresi bertambah  pergerakan usus meningkat  diare

F.        Manifestasi klinis
Masa tunas/inkubasi penyakit berlangsung kurang lebih dari 10-20 hari dan kemidian timbul gejala-gejala yang dibagi dalam 3 stadium antara lain:
1.         Stadium kataral (prodormal)
Stadium prodormal berlangsung selama 4-5 hari ditandai oleh demam ringan hingga sedang, batuk kering ringan, coryza, fotofobia dan konjungtivitis. Menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul bercak koplik yang patognomonik bagi morbili, tetapi sangat jarang dijumpai. Bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema. Lokalisasinya dimukosa bukalis berhadapan dengan molar dibawah, tetapi dapat menyebar tidak teratur mengenai seluruh permukaan pipi. Meski jarang, mereka dapat pula ditemukan pada bagian tengah bibir bawah, langit-langit dan karankula lakrimalis. Bercak tersebut muncul dan menghilang dengan cepat dalam waktu 12-18 jam. Kadang-kadang stadium prodormal bersifat berat karena diiringi demam tinggi mendadak disertai kejang-kejang dan pneumoni. Gambaran darah tepi ialah limfositosis dan leukopenia.pada stadium ini bisa menularkannya.
2.         Stadium erupsi
Coryza dan batuk-batuk bertambah. Timbul enantema / titik merah dipalatum durum dan palatum mole. Terjadinya eritema yang berbentuk makula papula disertai dengan menaiknya suhu tubuh. Eritema timbul dibelakang telinga dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah. Kadang-kadang terdapat perdarahan primer pada kulit. Rasa gatal, muka bengkak. Terdapat pembesaran kelenjar getah bening disudut mandibula dan didaerah leher belakang. Juga terdapat sedikit splenomegali, tidak jarang disertai diare dan muntah. Variasi dari morbili yang biasa ini adalah “Black Measles” yaitu morbili yang disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus digestivus.
3.         Stadium konvalesensi
Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi) yang bisa hilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak Indonesia sering ditemukan pula kulit yang bersisik. Hiperpigmentasi ini merupakan gejala patognomonik untuk morbili. Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema atau eksantema ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai menjadi normal kecuali bila ada komplikasi
G.      Pencegahan
1.         Imunusasi aktif
Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan vaksin campak hidup yang telah dilemahkan. Vaksin hidup yang pertama kali digunakan adalah Strain Edmonston B. Pelemahan berikutnya dari Strain Edmonston B. Tersebut membawa perkembangan dan pemakaian Strain Schwartz dan Moraten secara luas. Vaksin tersebut diberikan secara subkutan dan menyebabkan imunitas yang berlangsung lama.
Pada penyelidikan serulogis ternyata bahwa imunitas tersebut mulai mengurang 8-10 tahun setelah vaksinasi. Dianjurkan agar vaksinasi campak rutin tidak dapat dilakukan sebelum bayi berusia 15 bulan karena sebelum umur 15 bulan diperkirakan anak tidak dapat membentuk antibodi secara baik karena masih ada antibodi dari ibu. Pada suatu komunitas dimana campak terdapat secara endemis, imunisasi dapat diberikan ketika bayi berusia 6-12 bulan.
2.         Imunusasi pasif
Imunusasi pasif dengan serum oarng dewasa yang dikumpulkan, serum stadium penyembuhan yang dikumpulkan, globulin placenta (gama globulin plasma) yang dikumpulkan dapat memberikan hasil yang efektif untuk pencegahan atau melemahkan campak. Campak dapat dicegah dengan serum imunoglobulin dengan dosis 0,25 ml/kg BB secara IM dan diberikan selama 5 hari setelah pemaparan atau sesegera mungkin.
H.      Pengobatan
Terdapat indikasi pemberian obat sedatif, antipiretik untuk mengatasi demam tinggi. Istirahat ditempat tidur dan pemasukan cairan yang adekuat. Mungkin diperlukan humidikasi ruangan bagi penderita laringitis atau batuk mengganggu dan lebih baik mempertahanakan suhu ruangan yang hangat.
Penetalaksanaan Teraupetik
1.         Pemberian vitamin A
2.         Istirahat baring selama suhu meningkat, pemberian antipiretik
3.         Pemberian antibiotik pada anak-anak yang beresiko tinggi
4.         Pemberian obat batuk dan sedativum
I.         Pemeriksaan Diagnostik
1.         Pemeriksaan Fisik
2.         Pemeriksaan Darah
J.         Komplikasi
1.      Otitis media akut
2.      Pneumonia / bronkopneumoni
3.      Encefalitis
4.      Bronkiolitis
5.      Laringitis obstruksi dan laringotrakkhetis

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A.      Pengkajian
1.         Identitas diri :
2.         Riwayat imunisasi
3.         kontak dengan orang yang terinfeksi
4.         Pemeriksaan Fisik :
a.         Mata : terdapat konjungtivitis, fotophobia
b.        Kepala : sakit kepala
                         i.              Hidung : Banyak terdapat secret, influenza, rhinitis/koriza, perdarahan hidung ( pada stadium erupsi ).
c.         Mulut & bibir : Mukosa bibir kering, stomatitis, batuk, mulut terasa pahit.
                         i.              Kulit : Permukaan kulit ( kering ), turgor kulit, rasa gatal, ruam makuler pada leher, muka, lengan dan kaki ( pada stadium Konvalensi ), eritema, panas ( demam  ).
d.        Pernafasan : Pola nafas, RR, batuk, sesak nafas, wheezing, ronchi, sputum
e.         Tumbuh Kembang : BB, TB, BB Lahir, Tumbuh kembang R/ imunisasi.
f.         Pola Defekasi : BAK, BAB, Diare
g.        Status Nutrisi : intake – output makanan, nafsu makanan
5.         Keadaan Umum : Kesadaran, TTV
B.       Diagnosa keperawatan
Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul pada pasien morbili adalah Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien Campak adalah
1.         Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan organisme virulen
2.         Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan adanya batuk
3.         Gangguan integritas kulit berhubungan dengan adanya rash
4.         Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
5.         Gangguan aktivitas diversional berhubungan dengan isolasi dari kelompok sebaya
C.       Perencanaan keperawatan
Tujuan dan kriteria hasil :
1.         Perluasan infeksi tidak terjadi
2.         Anak menunjukkan tanda-tanda pola nafas efektif
3.         Anak dapat mempertahankan integritas kulit
4.         Anak menunjukan tanda-tanda terpenuhinya kebutuhan nutrisi
5.         Anak dapat melakukan aktivitas sesuai dengan usia dan tugas perkembangan selama menjalani isolasi dari teman sebaya atau anggota keluarga.
Intervensi keperawatan :
1.         Mencegah peluasan infeksi
a.         Tempatkan anak pada ruangan khusus
b.        Pertahankan isolasi yang ketat di rumah sakit
c.         Gunakan prosedur perlindugan infeksi jika melakukan kontak dengan anak
d.        Mempertahankan istirahat selama periode prodromal (kataral)
e.         Berikan antibiotik sesuai dengan order
2.         Mempertahankan pola nafas yang efektif
a.         Mengkaji ulang status pernafasan (irama, edalaman, suara nafas, penggunaan otot bantu pernafasan, bernafas melalui mulut)
b.        Mengkaji ulang tanda-tanda vital (denyut nadi, irama, dan frekuensi)
c.         Memberikan posisi tempat tidur semi fowler / fowler
d.        Membantu klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan kemampaunnya
e.         Menganjurkan anak untuk banyak minum
f.         Memberikan oksigen sesuai dengan indikasi
g.        Memberikan obat-obatan yang dapat meningkatkan efektifnya jalan nafas (seperti Bronkodilator, antikolenergik, dan anti peradangan)
3.          Mempertahankan integritas kulit
a.         Mempertahankan kuku anak tetap pendek, menjelaskan kepada anak untuk tidak menggaruk rash
b.        Memberikan obat antipruritus topikal, dan anestesi topikal
c.         Memberikan antihistamin sesuai order dan memonitor efek sampingnya
d.        Memandikan klien dengan menggunakan sabun yang lembut untuk mencegah infeksi
e.         Jika terdapat fotofobia, gunakan bola lampu yang tidak terlalu terang di kamar klien
f.         Memeriksa kornea mata terhadap kemungkinan ulserasi
4.         Mempertahankan kebutuhan nutrisi
a.         Kaji ketidakmampuan anak untuk makan
b.        Ijinkan anak untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak, rencanakan untuk memperbaiki status gizi pada saat selera makan anak meningkat.
c.         Berikan makanan yang disertai dengan supleman nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi
d.        Kolaborasi untuk pemberian nutrisi parenteral jika kebutuhan nutrisi melalui oral tidak mencukupi kebutuhan gizi anak
e.         Menilai indikator terpenuhinya kebutuhan nutrisi (berat badan, lingkar lengan, membran mukosa)
f.         Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tapi sering
g.        Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama, dan dengan skala yang sama
h.        Mempertahankan kebersihan mulut anak
i.          Menjelaskan pentingya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit

5.         Mempertahankan kebutuhan aktivitas sesuai dengan usia dan tugas perkembangan
a.         Memberikan aktivitas ringan yang sesuai dengan usia anak (permainan, keterampilan tangan, nonton televisi)
b.        Memberikan makanan yang menarik untuk memberikan stimulasi yang bervariasi bagi anak
c.         Melibatkan anak dalam mengatur jadwal harian dan memilih aktivitas yang diinginkan
d.        Mengijinkan anak untuk mengerjakan tugas sekolah selama di rumah sakit, menganjurkan anak untuk berhubungan dengan teman melalui telepon jika memungkinkan
D.      Perencanaan Pemulangan
1.         Jelaskan terapi yang diberikan : dosis, efek samping
2.         Melakukan imunisasi jika imunisasi belum lengkap sesuai dengan prosedur
3.         Menekankan pentingnya kontrol ulang sesuai jadwal
4.         Informasikan jika terdapat tanda-tanda terjadinya kekambuhan
BAB IV
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Penyakit Campak sering menyerang anak anak balita. Penyakit ini mudah menular kepada anak anak di sekitarnya, makanya anak yang menderita Campak harus diisolasi untuk mencegah penularan. Campak disebarkan pada stadium prodormal atau kataral oleh kuman yang disebut Virus Morbili paramixovirus. Anak yang terserang campak kelihatan sangat menderita, suhu badan panas, bercak bercak seluruh tubuh terkadang sampai borok borok bernanah.
B.       Saran
Orang tua diharapkan segera memeriksakan anaknya bila dicurigai adanya gejala dari campak di atas untuk mencegah komplikasi yang lebih lanjut.


DAFTAR PUSTAKA
Ilmu Kesehatan Anak Edisi 2, th 1991. FKUI
Ilmu Kesehatan Anak vol 2, Nelson, EGC, 2000

No comments:

Post a Comment

DUNIA KEPERAWATAN. Powered by Blogger.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Search

Exit Jangan Lupa Klik Like & Follow Ya!!