PESAN SEGERA

Dengan 50rb dapatkan : 1 ASKEP atau, 2 SAP+2Leaflet, atau 2 Artikel, atau 3 Askep Persentation dan Terima Pesanan

Saturday, February 23, 2013

KTI Gambaran Mekanisme Koping Mahasiswa

Kapevi Hatake | 6:09 PM |

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Keperawatan sebagai sebuah profesi telah disepakati berdasarkan pada hasil lokakarya nasional pada tahun 1983, dan didefinisikan sebagai suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat, baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia. Pada hakekatnya keperawatan merupakan suatu ilmu dan kiat, profesi yang berorientasi pada pelayanan, dan memiliki empat tingkatan klien (individu, keluarga, kelompok dan masyarakat) serta pelayanan yang mencakup seluruh rentang pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Adapun hakekat keperawatan adalah sebagai berikut: pertama, sebagai ilmu dan seni. Kedua, sebagai profesi yang berorientasi kepada pelayanan. Ketiga, mempunyai tiga sasaran dalam pelayanan keperawatan (individu, keluarga dan masyarakat). Keempat, pelayanan keperawatan mencakup seluruh rentang pelayanan kesehatan. (Hidayat, 2008)
Berdasarkan penggunaan asuhan keperawatan dalam praktik keperawatan, maka keperawatan dapat dikatakan sebagai profesi yang sejajar dengan profesi tenaga kesehatan yang lainnya. Keperawatan dapat dikatakan sebagai profesi karena memiliki : pertama, Landasan ilmu pengetahuan yang jelas (scientific nursing). Kedua, Memiliki kode etik Profesi. Ketiga, Memiliki lingkup dan wewenang praktek keperawatan berdasarkan standar praktik keperawatan atau standar asuhan keperawatan yang bersifat dinamis. Keempat, Memiliki organisasi profesi. Di dalam kode etik keperawatan Indonesia ada tanggung jawab perawat dan profesi bahwa perawat mempunyai peran utama dalam menentukan standar pendidikan dan pelayanan keperawatan serta menerapkan nya dalam kegiatan pelayanan dan pendidikan keperawatan. Sehingga dalam hal ini profesi keperawatan memerlukan pendidikan yang khusus. (Hidayat, 2008)
Pendidikan keperawatan melalui sebuah pendidikan yang khusus, diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang menguasai pengetahuan dan ketrampilan dibidang keperawatan serta memiliki dan menampilkan sikap profesional. Untuk mencapai kemampuan tersebut harus dirancang strategi belajar mengajar dalam bentuk pengalaman belajar praktek laboratorium dan pengalaman belajar praktek klinik keperawatan. Salah satu bentuk pengalaman yang  perlu mendapat perhatian dalam pengembangan dan pembinaan pendidikan keperawatan yang  merupakan bentuk pengalaman belajar utama dalam melaksanakan adaptasi proses belajar yaitu pengalaman belajar klinik. Seperti yang terdapat dalam kurikulum program pendidikan diploma III keperawatan memiliki lama studi 6 semester dengan batas maksimal 10 semester. Kurikulum terdiri dari kurikulum inti sebesar 96 SKS dan kurikulum institusional 14-24 SKS. Kurikulum inti terdiri dari teori 42 SKS (44 %), praktikum dan klinik 56 SKS ( 56 %). Yang mempunyai pengalaman belajar meliputi teori ( T ), praktikum ( P ) dan klinik (K) atau lapangan (L). Pengalaman belajar praktikum merupakan prasyarat pengalaman belajar klinik, dimana mahasiswa melaksanakan praktek di laboratorium terlebih dahulu dibawah bimbingan dosen untuk selanjutnya belajar di klinik dibawah bimbingan instruktur klinik dan dosen.
Reilly dan Obermann dalam Nursalam (2003) menyatakan bahwa pengalaman belajar klinik (Rumah sakit dan Puskesmas) merupakan bagian penting dalam proses pendidikan mahasiswa keperawatan, karena memberikan pengalaman yang kaya kepada mahasiswa begaimana cara belajar yang sesungguhnya. Kemudian Reilly menambahkan bahwa masalah nyata yang dihadapi di lahan praktek membuat mahasiswa harus berespon terhadap tantangan dengan mencari pengetahuan dan ketrampilan sebagai alternatif  untuk menyelesaikannya. Mahasiswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dalam mengambil keputusan klinik yang merupakan manifestasi dari keterpaduan menalar secara alamiah dan etik yang bertolak dari masalah nyata dalam keperawatan.
Pengalaman belajar klinik merupakan salah satu pembelajaran yang sangat penting. Mahasiswa dapat melaksanakan teori yang telah didapat dari proses belajar di dalam kelas. Berdasarkan hasil pengamatan bahwa  belajar praktek klinik membutuhkan suatu adaptasi selain suasana baru, orang baru dan menghadapi klien yang secara bio-psiko-sosio maupun spiritual harus di perhatikan dan juga serangkaian tugas atau kompetensi yang harus dipenuhi yaitu tuntutan dari program studi. setiap mahasiswa berbeda cara penyesuaiannya ada yang dapat menyesuaikan dengan baik dan ada juga yang tidak dapat menyesuaikan hal ini dapat menimbulkan stress.
Menurut Hans Selye dalam Hidayat (2008) stress merupakan respon tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap tuntutan atau beban atasnya. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikatakan stress apabila seseorang mengalami beban atau tugas yang berat tetapi orang tersebut tidak dapat mengatasi tugas yang dibebankan itu, maka tubuh akan berespon dengan tidak mampu terhadap tugas tersebut, sehingga orang tersebut dapat mengalami stress. (Hidayat, 2008)
Respon seseorang dalam menghadapi stress terdapat dua macam yaitu respon fisiologis dan respon psikologis. Respon psikologis juga di sebut sebagai mekanisme koping.  Mekanisme ini dapat berorientasi pada tugas dan mekanisme pertahanan ego. ( Perry & Potter, 2005)
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 28 Juli 2011 terhadap mahasiswa semester II dan IV Program Studi D III Keperawatan Universitas Muhammadiyah Sukabumi bahwa mahasiswa menyatakan mengalami stres ketika dalam melaksanakan praktek klinik, sumber penyebab stress ini yaitu tindakan yang mereka lakukan langsung terhadap klien dan menyangkut masalah nyawa seseorang, merasa tidak percaya diri dalam melaksanakan tugas, takut melakukan kesalahan, takut saat menghadapi klien yang sedang menghadapi sakaratul maut dan takut terhadap perawat atau pegawai senior yang tidak bersahabat. Selain itu setelah pulang kerumah banyak tugas yang harus dikerjakan seperti membuat Dokumen Asuhan Keperawatan, Laporan Pendahuluan dan Strategi Pelaksanaan.
Berdasarkan uraian sebelumnya penting untuk diteliti tentang Gambaran Umum Mekanisme Koping pada Mahasiswa Tingkat II dan III Program Studi D III Keperawatan Universitas Muhammadiyah Sukabumi dalam Melaksanakan Praktik Belajar Lapangan di Rumah Sakit.

B.            Perumusan dan Identifikasi Masalah
Dari uraian di atas peneliti mengidentifikasi masalah penelitian yaitu “Bagaimanakah gambaran umum mekanisme koping pada mahasiswa Tingkat II dan III Program Studi D III Keperawatan Universitas Muhammadiyah Sukabumi dalam melaksanakan praktik belajar lapangan di Rumah Sakit?”

C.           Tujuan Penelitian
1.        Tujuan umum
Mengetahui gambaran umum mekanisme koping pada Mahasiswa Tingkat II dan III Program Studi D III keperawatan Universitas Muhammadiyah Sukabumi dalam melaksanakan praktik belajar lapangan di Rumah Sakit.




2.        Tujuan khusus
Diketahuinya :
a.         Proporsi mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping yang berorientasi pada tugas
b.         Proporsi mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping pertahanan ego

D.           Manfaat Penelitian
1.        Pelayanan
Sebagai bahan acuan bagi mahasiswa keperawatan  dalam menghadapi praktik lapangan di Rumah Sakit sehingga dapat mempersiapkan diri sebelum melakukan praktik. Dan dapat menyiapkan suasana yang kondusif untuk belajar.

2.        Pendidikan Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan suatu ilmu baru dan bermanfaat bagi dunia pendidikan sebagai suatu referensi tentang mekanisme koping yang digunakan oleh mahasiswa dalam melaksanakan praktik belajar lapangan di Rumah Sakit. Dan persiapan untuk proses belajar mengajar.

3.        Perkembangan Ilmu Keperawatan
Diharapkan dapat  digunakan sebagai  bahan acuan untuk lebih meningkatkan informasi mengenai praktik belajar lapangan di Rumah Sakit.

4.        Peneliti Selanjutnya
Dan hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi bagi peneliti yang ingin melanjutkan penelitian keperawatan tentang mekanisme koping mahasiswa dalam melaksanakan praktik belajar lapangan di Rumah Sakit.



BAB II
TINJAUAN TEORITIS


Stres adalah segala situasi dimana tuntutan  non-spesifik mengharuskan seorang individu untuk berespon atau melakukan pendapat. (Selye, 1976 dalam Perry & Potter, 2005). Respon seseorang dalam menghadapi stress terdapat dua macam yaitu respon fisiologis dan respon psikologis. Di dalam respon fisiologis terdapat LAS dan GAS. LAS adalah respon dari jaringan, organ atau bagian tubuh terhadap stres karena trauma, penyakit atau perubahan fisiologis lainnya. Dan GAS adalah respon pertahanan dari keseluruhan tubuh terhadap stress. Respon ini melibatkan beberapa system tubuh, terutama system saraf otonom dan system endokrin. GAS terdiri atas reaksi peringatan, tahap resistens, dan tahap kehabisan tenaga. ( Perry & Potter, 2005)
Respon psikologis perilaku adaptif psikologis individu membantu kemampuan seseorang untuk menghadapi stressor. Perilaku ini diarahkan pada penatalaksanaan stress dan didapatkan melalui pembelajaran dan pengalaman sejalan dengan individu mengidentifikasi perilaku yang dapat diterima dan berhasil. Perilaku adaptif psikologis dapat konstruktif atau destruktif. Perilaku konstruktif membantu individu menerima tantangan untuk menyelesaikan konflik. Bahkan ansietas dapat konstruktif ; misalnya ansietas dapat menjadi tanda bahwa terdapat ancaman sehingga seseorang dapat melakukan tindakan untuk mengurangi keparahannya. Perilaku destruktif mempengaruhi orientasi realitas, kemampuan pemecahan masalah, kepribadian dan situasi yang sangat berat, kemampuan untuk berfungsi. Ansietas dapat juga bersifat destruktif, misalnya jika seseorang tidak mampu bertindak melepaskan diri dari stressor. Perilaku adaptif psikologis juga di sebut sebagai mekanisme koping. ( Perry & Potter, 2005)

A.      Mekanisme Koping
1.         Pengertian Mekanisme Koping
Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada penataaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri. (Stuart dan Sundeen, 1998). Mekanisme koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap situasi yang mengancam. (Keliat, 1999) .
Sedangkan menurut Lazarus (1985), koping adalah perubahan kognitif dan perilaku secara konstan dalam upaya untuk mengatasi tuntutan internal dan atau eksternal khusus yang melelahkan atau melebihi sumber individu. Dan menurut suliswati, Dkk (2005) dalam kehidupan sehari-hari, individu menghadapi pengalaman yang mengganggu ekuilibrium kognitif dan afektifnya. Individu dapat mengalami perubahan hubungan dengan orang lain dalam harapannya terhadap diri sendiri dengan cara negative. Munculnya ketegangan dalam kehidupan mengakibatkan perilaku pemecahan masalah (mekanisme koping) yang bertujuan untuk meredekan ketegangan tersebut.

2.         Rentang Respon Koping
Rentang  respon koping adalah suatu kisaran respon manusia yang adaptif ke maladaptif

3.         Penggolongan Mekanisme Koping
Berdasarkan penggolongannya mekanisme koping dibagi menjadi dua yaitu :
a.       Mekanisme koping adaptif
Mekanisme koping adaptif adalah mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar, dan mencapai tujuan. Kategorinya adalah berbicara dengan orang lain, memecahkan masalah secara efektif, tekhnik relaksasi, latihan seimbang dan aktivitas konstruktif.
b.      Mekanisme koping maladaptif
Mekanisme koping maladaptif adalah koping yang menghambat fungsi integrasi, memecah pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasi lingkungan. Kategorinya adalah makan berlebihan/ tidak makan, bekerja berlebihan dan menghindar.
(Stuart & Sundeen 1995).

4.         Jenis-Jenis Mekanisme Koping
a.       Perilaku berorientasi tugas
Perilaku Berorientasi Tugas mencakup penggunaan kemampuan kognitif untuk mengurangi stress, memecahkan masalah, menyelesaikan konflik, dan memenuhi kebutuhan (Stuart & Sundeen, 1991). Perilaku berorientasi tugas memberdayakan seseorang untuk secara realistic menghadapi tuntutan stressor. Tiga tipe umum perilaku berorientasi pada tugas, yaitu :
1)      Perilaku menyerang adalah tindakan untuk menyingkirkan atau mengatasi suatu stressor atau untuk memuaskan kebutuhan.
2)      Perilaku menarik diri adalah menarik diri secara fisik atau emosional dari stressor.
3)       Perilaku kompromi adalah mengubah metoda yang biasa digunakan, mengganti tujuan, atau menghilangkan kepuasan terhadap kebutuhan lain atau untuk menghindari stress.

b.    Mekanisme pertahanan ego
Mekanisme Pertahanan Ego yang pertama kali diuraikan Sigmund freud, adalah perilaku tidak sadar yang memberikan perlindungan psikologis terhadap peristiwa yang menegangkan. Mekanisme ini digunakan oleh setiap orang dan membantu melindungi terhadap perasaan tidak berdaya dan ansietas. Kadang mekanisme pertahanan diri dapat menyimpang dan tidak lagi mampu untuk membantu seseorang dalam mengadaptasi stressor. Ada banyak mekanisme pertahanan ego, contohnya seperti dibawah ini :
1)        Kompensasi adalah penutupan suatu defisiensi dalam suatu aspek citra diri dengan secara kuat menekankan suatu gambaran yang dianggap sebagai suatu asset.
2)        Konversi adalah secara tidak sadar menekan suatu konflik emosional yang menghasilkan ansietas dan memindahkannya menjadi gejala non-organik.
3)        Menyangkal adalah penghindaran konflik emosional dengan menolak untuk secara sadar mengakui segala sesuatu yang mungkin menyebankan nyeri emosional yang tidak dapt ditoleransi.
4)        Pemindahan tempat adalah memindahkan emosi, ide, atau keinginan dari situasi yang menegangkan kepada penggantinya yang lebih sedikit mengakibatkan ansietas.
5)        Identifikasi adalah pemolaan perilaku yang dilakukan oleh orang lain dan menerima kualitas, karakteristik dan tindakan orang tersebut.
6)        Regresi adalah koping terhadap stressor melalui tindakan dan perilaku yang berkaitan dengan periode perkembangan sebelumnya.(Perry & Potter, 2005)
7)        Disosiasi adalah pemisahan dari setiap kelompok mental atau proses perilaku dari seluruh kesadaran atau identitas.
8)        Intelektualisasi adalah alasan atau logika yang berlebihan yang digunakan untuk menghindari perasaan-perasaan mengganggu yang dialami.
9)        Introyeksi adalah tipe identifikasi yang hebat dimana individu menyatukan kualitas atau nilai-nilai orang lain  atau kelompok ke dalam struktur egonya sendiri; salah satu mekanisme terdini pada anak-anak; penting dalam pembentukan hati nurani.
10)    Isolasi adalah memisahkan komponen emosional dari pikiran, yang dapat temporer atau jangka panjang.
11)    Projeksi adalah mengkaitkan pikiran atau impuls dirinya, terutama keinginan yang tidak dapat ditoleransi, perasaan emosional atau motivasi kepada orang lain.
12)    Rasionalisasi adalah memberikan penjelasan yang diterima secara social atau tampaknya masuk akal untuk menyesuaikan impuls, perasaan, perilaku, dan motif yang tidak dapat diterima.
13)    Reaksi formasi adalah pembentukan sikap kesadaran dan pola perilaku yang berlawanan dengan apa yang benar-benar dirasakan atau akan dilakukan oleh orang lain.
14)    Represi adalah dorongan involunter dari pikiran yang menyakitkan atau konflik, atau ingatan dari kesadaran; pertahanan ego yang primer, yang lebih cenderung memperkuat mekanisme ego lainnya.
15)    Splitting adalah memandang orang dan situasi sebagai “semuanya baik atau semuanya buruk” gagal untuk mengintegrasikan kualitas negatif dan positif seseorang.
16)    Sublimasi adalah  penerimaan tujuan pengganti yang diterima secara social karena dorongan yang merupakan saluran normal ekspresi terhambat.
17)    Supresi adalah suatu proses yang sering disebut sebagai mekanisme pertahanan diri, tetapi benar-benar merupakan analogi reprsi; pencetusan kesadaran bertujuan; suatu ketika dapat mengarak kepada represi.
18)    Undoing adalah bertindak atau berkomunikasi yang secara sebagian meniadakan yang sudah ada sebelumnya; mekanisme pertahanan diri primitif. ( Gail W. Stuart & Sandra J. Sundeen, 1998)

B         Pembelajaran Klinik
Dalam kurikulum program pendidikan diploma III keperawatan memiliki lama studi 6 semester dengan batas maksimal 10 semester. Kurikulum terdiri dari kurikulum inti sebesar 96 SKS dan kurikulum institusional 14-24 SKS. Kurikulum inti terdiri dari teori 42 SKS (44 %), praktikum dan klinik 56 SKS ( 56 %).
1.      Pengalaman Belajar
Yang mempunyai pengalaman belajar meliputi teori ( T ), praktikum ( P ) dan klinik (K) atau lapangan (L). Kegiatan praktikum dilaksanakan di laboratorium kelas atau klinik dengan menggunakan metode simulasi, demonstrasi, role play dan bedside teaching. Kegiatan pembelajaran klinik atau lapangan dilaksanakan langsung di lahan praktek dengan metoda bedside teaching, conference(konferensi) dan nursing round (ronde keperawatan). Pengalaman belajar praktikum merupakan prasyarat pengalaman belajar klinik, dimana mahasiswa melaksanakan praktek di laboratorium terlebih dahulu dibawah bimbingan dosen untuk selanjutnya belajar di klinik dibawah bimbingan instruktur klinik dan dosen.

2.      Lahan Praktik
Lahan praktik yang digunakan mendukung pencapaian kompetensi mahasiswa Diploma III Keperawatan dengan kriteria sebagai berikut :
a.       Ketersediaan kasus yang mendukung pembelajaran
b.      Memiliki Instruktur klinik yang memenuhi Kriteria
Lahan praktek yang dapat digunakan meliputi rumah sakit umum kelas A,B dan C, rumah sakit khusus, puskesmas, panti asuhan, panti wredha, keluarga dan masyarakat. dan kelompok khusus.

3.      Tenaga Pendidik
Tenaga pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, serta melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat. Tenaga pendidik terdiri atas dosen dan instruktur klinik
a.       Dosen
Dosen adalah seseorang yang berdasarkan pendidikan dan keahliannya diangkat sebagai dosen dengan tugas melaksanakan tri darma perguruan tinggi . Dosen terdiri dari dosen tetap dan dosen tidak tetap. Dosen tetap adalah dosen yang diangkat sebagai tenaga pendidik tetap pada insitusi yang bersangkutan.
b.      Instruktur klinik
Instruktur adalah tenaga pendidik yang berasal dari lahan praktek yang bertugas untuk membantu pencapaian tujuan belajar mahasiswa. Instruktur klinik memiliki kualifikasi sebagai berikut :
1)         Pendidikan minimal DIII Keperawatan
2)         Memiliki sertifikat instruktur klinik atau AKTA III/IV
3)         Pengalaman kerja di bidangnya minimal 3 tahun

BAB III
METODOLOGI  PENELITIAN


A.      Metode Penelitian
1.         Rancangan penelitian
Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan eksploratif yang merupakan penelitian dengan tujuan untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. (Arikunto, 2006). Pada penelitian ini menunjukan  gambaran umum mekanisme koping pada mahasiswa tingkat II dan III Program Studi D III keperawatan Universitas Muhammadiyah Sukabumi dalam melaksanakan praktik belajar lapangan di Rumah Sakit.

2.         Variabel penelitian
Variabel menurut Nursalam (2008) adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap suatu (benda, manusia, dan lain-lain). Dan Menurut Sutrisno Hadi yang dikutip oleh Arikunto (2006) mendefinisikan variabel adalah objek penelitian yang bervariasi misalnya jenis kelamin, berat badan, dan sebagainya.
Variabel dalam penelitian ini yaitu mekanisme koping pada mahasiswa Tingkat II dan III Program Studi D III keperawatan Universitas Muhammadiyah Sukabumi dalam melaksanakan praktik belajar lapangan di Rumah Sakit. Sub variabel dalam penelitian ini adalah mekanisme koping yang berorientasi pada tugas, mekanisme koping pertahanan ego.

3.         Definisi operasional
Definisi Operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu yang mendefinisikan tersebut (Nursalam, 2008).  Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional dan berdasarkan karakteristik yang diamati, memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena. Definisi operasional ditentukan berdasarkan  parameter yang dijadikan ukuran dalam penelitian. Sedangkan cara pengukuran merupakan cara dimana variabel dapat diukur dan ditentukan karakteristiknya. (Hidayat, 2007)
Tabel 3.1
Definisi Operasional



Variabel
Definisi Operasional
Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala Ukur
Mekanisme koping pada mahasiswa tingkat II dan III Program Studi D III keperawatan Universitas Muhammadiyah Sukabumi dalam melaksanakan praktik belajar lapangan di rumah sakit
Mekanisme koping cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap situasi yang mengancam. Mekanisme koping terbagi 2 yaitu:
a.    Mekanisme koping berorientasi pada tugas







b.    Mekanisme koping pertahanan ego
Kuesioner













a.    Banyak digunakan apabila skor  3


Kurang digunakan apabila skor  <3

b.   Banyak digunakan apabila skor 10

Kurang digunakan apabila skor <10
Ordinal
B.       Populasi Dan Sampel Penelitian
1.         Populasi
Populasi adalah subyek yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2008). Dan populasi menurut Arikunto (2006) adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi penelitian ini adalah seluruh Mahasiswa Tingkat II dan III Program Studi D III Keperawatan Universitas Muhammadiyah Sukabumi sebanyak 81 orang. Alasan peneliti mengambil populasi mahasiswa tingkat II dan III karena sudah melaksanakan praktik belajar lapangan di Rumah Sakit, sedangkan tingkat I belum melaksanakan.

2.         Sampel
Sampel terdiri dari bagian populasi yang terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2008). Menurut Arikunto (2006) sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Tekhnik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling. Dalam penelitian ini seluruh populasi dijadikan sampel penelitian dikarenakan jumlah populasi yang diteliti dianggap tidak terlalu banyak. Selain itu peneliti ingin mendapatkan gambaran umum mekanisme koping pada mahasiswa tingkat II dan III Program Studi D III keperawatan Universitas Muhammadiyah Sukabumi dalam melaksanakan praktik belajar lapangan di Rumah Sakit secara menyeluruh.
Pada pelaksanaan penelitian jumlah mahasiswa yang menjadi responden sebanyak 72 orang. Sebagian mahasiswa yaitu  9 orang tidak dapat di temui karena ada berbagai halangan seperti sakit dan tidak masuk pembelajaran dikelas.

C.      Teknik Pengumpulan Data Dan Prosedur Penelitian
1.      Teknik Pengumpulan Data
Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa kuesioner. Kuesioner tersebut berisi pernyataan untuk mendapatkan gambaran mekanisme koping yang perilaku berorientasi tugas dan mekanisme pertahan ego yang digunakan oleh mahasiswa. Yang terdiri dari 23 pernyataan yaitu  mekanisme koping perilaku berorientasi pada tugas sebanyak 5 soal dan mekanisme koping pertahanan ego 18 soal, dengan pilihan jawaban “ya” dan “tidak” menggali isi subvariabel yang telah ditetapkan dalam kisi-kisi instrumen dengan system scoring yang dijumlahkan dengan penskalaan ordinal berdasarkan arah pernyataan.

2.      Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian yang dilakukan oleh penulis dalam penelitian ini antara lain melalui 3 tahap, yaitu :
a.       Tahap persiapan
Tahap persiapan pertama, peneliti mendapatkan  masalah  yaitu  mekanisme koping pada Mahasiswa Tingkat II dan III Program Studi D III keperawatan Universitas Muhammadiyah Sukabumi dalam melaksanakan praktik belajar lapangan di Rumah Sakit, peneliti mengumpulkan berbagai informasi dan teori-teori yang berhubungan dengan mekanisme koping mahasiswa dalam melaksanakan praktik belajar lapangan di Rumah Sakit dengan melakukan studi pendahuluan, studi kepustakaan dan metodelogi penelitian.
Peneliti mendapatkan Dari hasil studi pendahuluan data dari hasil wawancara pada mahasiswa tingkat II dan III mengalami stress jika melaksanakan praktik belajar lapangan di Rumah Sakit. Sehingga peneliti tertarik bagaimana gambaran mekanisme koping yang digunakannya. Untuk studi kepustakaan, peneliti mencari dari buku sumber, penelitian sebelumnya dan internet.
Selanjutnya peneliti membuat instrument penelitian yaitu berupa kuesioner, agar kuesioner tidak menyimpang dari tujuan penelitian, peneliti menyusun kisi-kisi yaitu menjadi dua indikator yaitu mekanisme koping yang berorientasi pada tugas dan mekanisme koping pertahanan ego
b.      Tahap pelaksanaan
Tahap pelaksanaan terdiri dari langkah mengumpulkan data melalui kuesioner yaitu dengan cara peneliti mendatangi mahasiswa yang sedang berkumpul di dalam kelas kemudian menjalin hubungan trust dengan cara menjelaskan tujuan dan manfaat penelitian, setelah mahasiswa bersedia menjadi responden dalam penelitian ini kemudian membuat kontrak waktu dan tempat yang ditentukan dan disepakati bersama.
Peneliti mengkonfirmasi ulang waktu dan tempat yang sebelumnya telah disepakati bersama. Konfirmasi ulang  ini dilakukan untuk memastikan responden hadir semua dan tidak berhalangan saat pembagian kuesioner. Pembagian kuesioner dilaksanakan selama 3 hari mulai dari tanggal 20 september sampai 22 september 2011.
Peneliti mengumpulkan responden dalam satu kelas sesuai dengan kontrak waktu dan tempat yang telah disepakati yaitu setelah jam mata kuliah berakhir. Peneliti menjelaskan terlebih dahulu cara pengisisan kuesioner supaya responden mengerti dalam cara pengisiannya. Selain itu peneliti juga meminta responden untuk menandatangani persetujuan menjadi responden (informed concent), yang menyatakan bahwa responden memahami tujuan dari penelitian, bersedia mengisi kuesioner, dan mengetahui bahwa informasi ini bersifat rahasia dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.
Setelah itu, peneliti membagikan kuesioner langsung ke responden. Pengisian kuesioner dilakukan bersama-sama dengan didampingi peneliti. selanjutnya responden diminta untuk mengisi kuesioner dengan cara memberikan cheklist (√) dengan menggunakan balpoint pada jawaban yang telah disediakan. Rata-rata responden mengisi kuesioner selama 20 menit.
c.       Tahap akhir
Tahap akhir, peneliti memeriksa lembar kuesioner yang diisi oleh responden apakah telah diisi semua atau belum. Setelah itu peneliti memberikan no pada setiap lembar kuesioner supaya memudahkan dalam pentabulasian. Kemudian peneliti memberikan skor pada setiap pernyataan yang dijawab oleh responden, jika menjawab ”ya” diberi skor 1 dan jika “tidak” diberi skor 0. Kemudian dijumlahkan dan dibuat persentasenya.

D.      Pengolahan Data dan Analisis Data
1.         Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a.         Editing (penyuntingan data)
Hasil wawancara atau kuesoiner yang diperoleh dikumpulkan kemudian disunting terlebih dahulu. Dari semua kuesioner yang sudah diisi memenuhi syarat sehingga tidak ada kuesioner yang dikeluarkan.
b.        Membuat lembaran kode (Coding Sheet)
Membuat lembaran kode berupa kolom-kolom untuk merekam data secara manual. Lembaran kode berisi no responden dan no pernyataan. Setiap kuesioner yang sudah diisi masing-masing diberi no responden untuk memudahkan peneliti dalam pentabulasian.
c.         Scoring
Memberikan nilai (Scoring) pada setiap lembar kuesioner yang telah diisi oleh responden dengan memberikan nilai jawaban ya diberi nilai 1dan jawaban ”tidak” diberi nilai 0. Dimasukkan kedalam lembaran kode (coding sheet) sesuai dengan no responden dan no pernyataan. Setelah memberikan nilai selesai peneliti memasukkan hasil data ke perangkat lunak komputer.
d.        Cleaning
Melakukan pengecekan kembali data yang sudah dimasukan ke perangkat lunak komputer ternyata tidak terdapat kesalahan memasukan data.
e.         Tabulasi
Membuat tabel-tabel data sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu mekanisme koping yang berorientasi pada tugas dan mekanisme koping pertahanan ego.

2.         Analisis data
Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis univariat yang hanya menghasilkan distribusi dan presentase dari tiap variabel kemudian data dianalisis dengan menggunakan tekhnik kuantitatif dan tekhnik statistik yang digunakan untuk mengolah data sebagai hasil pengukuran.
Memindahkan data dari data kuesioner ke dalam tabel , selanjutnya diadakan presentasi tersebut dengan membagi jumlah jawaban dengan jumlah seluruh responden kemudian dikalikan 100% atau dengan rumus:


                F  
P  =                x   100%
              N
 
                                                                                                                     






Keterangan :
P : Persentase
F : Jumlah jawaban
N: Jumlah seluruh responden


E.       Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kampus Universitas Muhammadiyah Sukabumi. Alasan pemilihan lokasi dikarenakan peneliti menemukan masalah pada mahasiswa Program Studi D III Keperawatan  yang mengalami stress saat melaksanakan praktik belajar lapangan di Rumah Sakit, sehingga peneliti tertarik untuk mengetahui mekanisme koping yang digunakan. Penelitian ini  dilaksanakan pada Bulan Juli sampai dengan Oktober 2011. Adapun pengumpulan data dilaksanakan selama 3 hari dengan perincian sebagai berikut : (a) Selasa, 20 September 2011, Pukul 09.15 WIB ; (b) Rabu, 21 September 2011, Pukul 12.15 WIB; (c) Kamis, 22 September 2011, Pukul 09.40 WIB.

F.       Etika Penelitian
1.         Informed Consent
Informed consent diberikan sebelum melakukan penelitian. Informed consent ini berupa lembar persetujuan untuk menjadi responden. Pemberian informed consent ini bertujuan agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian dan mengetahui dampaknya. Jika subjek besedia, maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan dan jika responden tidak bersedia, maka peneliti harus menghormati keputusan tersebut. (Hidayat, 2007)
Peneliti dalam pelaksanaan Informed consent yang pertama dilakukan yaitu menjelaskan tujuan dan manfaat. Setelah itu memberikan waktu untuk responden untuk bertanya apabila ada yang kurang paham mengenai tujuan dan manfaat penelitian. Semua responden bersedia untuk menjadi responden dalam penelitian. Setelah itu peneliti meminta responden untuk menandatangani persetujuan menjadi responden.

2.         Anonimity (tanpa nama)
Anonymity, berarti tidak perlu mencantumkan nama pada lembar pengumpulan data (kuesioner). Peneliti hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data tersebut. (Hidayat, 2007).
Peneliti hanya mencantumkan kode responden pada setiap lembar kuesioner.

3.         Kerahasiaam (Confidentiality)
Subbab ini menjelaskan masalah-masalah responden yang harus dirahasiakan dalam penelitian. Kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaan oleh peneliti , hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan dalam hasil penelitian. (Hidayat, 2007)
Peneliti memberikan penjelasan kepada responden bahwa informasi yang berkaitan dengan responden dijamin kerahasiaannya, dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.





BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A.      Hasil Penelitian
Hasil penelitian terhadap mahasiswa tingkat II dan tingkat III yang dilaksanakan mulai tanggal 20-22 September 2011 di Program Studi D III Keperawatan Universitas Muhammadiyah Sukabumi diperoleh beberapa data berdasarkan hasil uji analisis bahwa mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping perilaku berorientasi tugas dan mekanisme koping pertahanan ego dapat dilihat dalam table sebagai berikut :
Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Responden Yang
Menggunakan Mekanisme Koping Perilaku Berorientasi Tugas Dan Mekanisme Koping Pertahanan Ego



Dimensi
Indikator
Menggunakan
Tidak Menggunakan
F
%
F
%
Mekanisme Koping Perilaku Berorientasi Tugas
Perilaku Menyerang
72
100
0
0
Perilaku Menarik Diri
12
17
60
83
Perilaku Kompromi
70
97
2
3
Mekanisme Koping Pertahanan Ego
Kompensasi
67
93
5
7
Konversi
47
65
25
35
Menyangkal
16
22
56
78
Pemindahan Tempat
39
54
33
46
Identifikasi
42
58
30
42
Regresi
31
43
41
57
Disosiasi
4
6
68
94
Intelektualisasi
67
93
5
7
Introyeksi
71
99
1
1
Isolasi
67
93
5
7
Projeksi
60
83
12
17
Rasionalisasi
36
50
36
50
Reaksi Formasi
36
50
36
50
Represi
30
42
42
58
Splitting
62
86
10
14
Sublimasi
65
90
7
10
Supresi
50
69
22
31
Undoing
14
19
58
81



Dari tabel 4.1 dapat dilihat bahwa semua mahasiswa menggunakan mekanisme koping perilaku berorientasi pada tugas dengan perilaku menyerang yaitu 72 orang (100%) dan responden banyak menggunakan mekanisme koping pertahanan ego dengan introyeksi sebanyak 71 orang (99%).

B.       Pembahasan
Pada pembahasan ini, peneliti akan menjelaskan apa yang mendasari masalah dan tujuan penelitian yaitu Bagaimanakah gambaran umum mekanisme koping pada mahasiswa Tingkat II dan III Program Studi D III Keperawatan Universitas Muhammadiyah Sukabumi dalam melaksanakan praktik belajar lapangan di Rumah Sakit. Berdasarkan analisis subvariabel pada mekanisme koping yang terdapat pada table 4.1 yaitu bahwa semua mahasiswa menggunakan mekanisme koping perilaku berorientasi pada tugas dengan perilaku menyerang yaitu 72 orang (100%) dan mahasiswa banyak menggunakan mekanisme koping pertahanan ego dengan introyeksi sebanyak 71 orang (99%).
Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada penataaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri. (Stuart dan Sundeen, 1998). Menurut Stuart dan Sundeen (1991) dalam Perry dan Potter (2005)  mekanisme koping terdiri dari dua jenis yaitu mekanisme koping perilaku berorientasi pada tugas dan mekanisme koping pertahanan ego.
Mekanisme koping yang pertama yaitu mekanisme koping perilaku berorientasi pada tugas mencakup penggunaan kemampuan kognitif untuk mengurangi stress, memecahkan masalah, menyelesaikan konflik, dan memenuhi kebutuhan (Stuart & Sundeen, 1991). Perilaku berorientasi tugas memberdayakan seseorang untuk secara realistik menghadapi tuntutan stressor. Tiga tipe umum perilaku berorientasi pada tugas yaitu :
1.         Perilaku Menyerang, adalah tindakan untuk menyingkirkan atau mengatasi suatu stressor atau untuk memuaskan kebutuhan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa semua mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan perilaku menyerang sebanyak 72 orang (100%).  Bahwa mahasiswa itu dengan secara sadar mengklarifikasi terhadap masalah yang muncul dan menyampaikan apa yang dirasakannya itu adalah benar, sehingga masalah itu dapat dielesaikan dengan baik.
2.         Perilaku Menarik Diri, adalah menarik diri secara fisik atau emosional dari stressor. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian kecil mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan perilaku menarik diri sebanyak 12 orang (17%). Pada kenyataannya masih ada mahasiswa yang secara fisik dan emosional menghindari stressor yang muncul dengan secara sengaja tidak mengikuti proses pembelajaran praktik di Rumah Sakit, dan dengan sengaja tidak mengerjakan tugas kompetensi yang seharusnya dipenuhi.
3.         Perilaku Kompromi, adalah mengubah metoda yang biasa digunakan, mengganti tujuan, atau menghilangkan kepuasan terhadap kebutuhan lain atau untuk menghindari stress. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa hampir seluruh mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan perilaku kompromi sebanyak 70 orang (97%). Faktanya mahasiswa dengan secara sadar melakukan bargaining  dengan dirinya sendiri bahwa stressor itu bukan masalah yang harus ditakuti bahkan harus diterima karena merupakan suatu jalan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Mekanisme koping yang kedua yaitu mekanisme koping pertahanan ego yang diuraikan Sigmund freud, adalah perilaku tidak sadar yang memberikan perlindungan psikologis terhadap peristiwa yang menegangkan. Mekanisme ini digunakan oleh setiap orang dan membantu melindungi terhadap perasaan tidak berdaya dan ansietas. Kadang mekanisme pertahanan diri dapat menyimpang dan tidak lagi mampu untuk membantu seseorang dalam mengadaptasi stressor. Mekanisme koping pertahanan ego menurut Perry dan Potter, (2005) dan Gail W. Stuart & Sandra J. Sundeen, (1998) terdapat 18 macam mekanisme koping pertahanan ego yaitu :
a.          Kompensasi, adalah penutupan suatu defisiensi dalam suatu aspek citra diri dengan secara kuat menekankan suatu gambaran yang dianggap sebagai suatu asset. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa hampir seluruh mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan kompensasi sebanyak 67 orang (93%). Kompensasi ini bersifat positif karena dapat meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa tanpa harus melihat kekurangan yang dimilikinya.
b.         Konversi, adalah secara tidak sadar menekan suatu konflik emosional yang menghasilkan ansietas dan memindahkannya menjadi gejala non-organik. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan konversi sebanyak 47 orang (65%). Secara tidak sadar menekan suatu stressor dan mengakibatkan mahasiswa itu bingung apa yang harus dilakukan sehingga masalah itu tidak apat diselesaikan. Seperti pertama kali menghadapi klien dengan suatu penyakit yang baru pertama kali ditemui.
c.          Menyangkal , adalah penghindaran konflik emosional dengan menolak untuk secara sadar mengakui segala sesuatu yang mungkin menyebankan nyeri emosional yang tidak dapt ditoleransi. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian kecil  mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan menyangkal sebanyak 16 orang (22%). Kenyataannya masih ada mahasiswa yang secara sadar menerima suatu stressor tanpa menghiraukan dampak yang akan terjadi. Seperti mahasiswa mengatakan bisa melakukan suatu tindakan walaupun tindakan itu belum pernah diajarkan.
d.         Pemindahan tempat, adalah memindahkan emosi, ide, atau keinginan dari situasi yang menegangkan kepada penggantinya yang lebih sedikit mengakibatkan ansietas. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan pemindahan tempat sebanyak 39 orang (54%). Ketika mahasiswa tidak bisa mengerjakan tugas sebagian mahasiswa mengatasinya dengan melakukan hal lain seperti makan, jalan-jalan, dll
e.          Identifikasi, adalah pemolaan perilaku yang dilakukan oleh orang lain dan menerima kualitas, karakteristik dan tindakan orang tersebut. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan identifikasi sebanyak 42 orang (58%). Mahasiswa selalu mengikuti cara-cara yang dilakukan perawat senior yang dikagumi untuk melakukan tindakan.
f.          Regresi, adalah koping terhadap stressor melalui tindakan dan perilaku yang berkaitan dengan periode perkembangan sebelumnya. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian kecil mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan regresi sebanyak 31 orang (43%). Mahasiswa mengetahui suatu tindakan yang sesuai dengan prosedur tetapi saat di Rumah Sakit apabila ada tindakan yang tidak sesuai dengan prosedur mahasiswa mengikutinya.
g.         Disosiasi, adalah pemisahan dari setiap kelompok mental atau proses perilaku dari seluruh kesadaran atau identitas. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian kecil mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan disosiasi sebanyak 4 orang (6%). Ketika mahasiswa diminta untuk melakukan tindakan yang kurang dipahami mahasiswa berpura-pura bisa melakukan tindakan itu.
h.         Intelektualisasi, adalah alasan atau logika yang berlebihan yang digunakan untuk menghindari perasaan-perasaan mengganggu yang dialami. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan intelektualisasi sebanyak 67 orang (93%).  Mahasiswa meyakini suatu tindakan yang dilakukan itu benar sesuai dengan prosedur.
i.           Introyeksi, adalah tipe identifikasi yang hebat dimana individu menyatukan kualitas atau nilai-nilai orang lain  atau kelompok ke dalam struktur egonya sendiri. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa hampir seluruhnya mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan introyeksi sebanyak 71 orang (99%). Mahasiswa mengalihkan stresornya dengan meyakini bahwa setiap tindakan yang dilakukan kepada klien merupakan suatu ibadah.
j.           Isolasi, adalah memisahkan komponen emosional dari pikiran, yang dapat temporer atau jangka panjang. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan isolasi sebanyak 67 orang (93%). Mahasiswa mengalihkan stresornya dengan meyakini bahwa dalam memberikan asuhan keperawatan mahasiswa benar-benar menganggap sebagai suatu tugas bukan mengharapkan imbalan.
k.         Projeksi, adalah mengkaitkan pikiran atau impuls dirinya, terutama keinginan yang tidak dapat ditoleransi, perasaan emosional atau motivasi kepada orang lain. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan projeksi sebanyak 60 orang (83%). Pengalihan stressor mahasiswa dengan projeksi yaitu dengan menyangkal bahwa dalam melakukan tindakan ada keterbatasan alat sehingga tidak dapat melakukan sesuai dengan prosedur.
l.           Rasionalisasi, adalah memberikan penjelasan yang diterima secara sosial atau tampaknya masuk akal untuk menyesuaikan impuls, perasaan, perilaku, dan motif yang tidak dapat diterima. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian  mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan rasionalisasi sebanyak 36 orang (50%). Pengalihan stressor yang dilakukannya yaitu mahasiswa merasa pembimbing akademik maupun pembimbing klinik kurang membimbing saat praktik sehingga tidak bisa mengerjakan tugas di Rumah Sakit.
m.       Reaksi formasi, adalah pembentukan sikap kesadaran dan pola perilaku yang berlawanan dengan apa yang benar-benar dirasakan atau akan dilakukan oleh orang lain. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian  mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan reaksi formasi sebanyak 36 orang (50%). Pengalihan stressor yang dilakukan mahasiswa yaitu menginginkan klien sembuh tetapi dalam setiap tindakan tidak memperhatikan respon negatif yang dirasakan klien.
n.         Represi, adalah dorongan involunter dari pikiran yang menyakitkan atau konflik, atau ingatan dari kesadaran; pertahanan ego yang primer, yang lebih cenderung memperkuat mekanisme ego lainnya. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian kecil mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan represi sebanyak 30 orang (42%). Pengalihan stressor yang dilakukan mahasiswa yaitu tidak mengingat lagi ketika melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan prosedur.
o.         Splitting, adalah memandang orang dan situasi sebagai “semuanya baik atau semuanya buruk” gagal untuk mengintegrasikan kualitas negatif dan positif seseorang. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan splitting sebanyak 62 orang (86%). Pengalihan stressor yang dilakukan mahasiswa yaitu mahasiswa menyadari bahwa dalam melaksanakan tindakan sangat menyenangkan tetapi dalam situasi tertentu malah sebaliknya.
p.         Sublimasi, adalah  penerimaan tujuan pengganti yang diterima secara social karena dorongan yang merupakan saluran normal ekspresi terhambat. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan sublimasi sebanyak 65 orang (90%). Pengalihan stressor yang dilakukan mahasiswa yaitu mahasiswa mengesampingkan sikap yang sebenarnya demi kesembuhan klien.
q.         Supresi, adalah suatu proses yang sering disebut sebagai mekanisme pertahanan diri, tetapi benar-benar merupakan analogi reprsi; pencetusan kesadaran bertujuan; suatu ketika dapat mengarak kepada represi. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan supresi sebanyak 50 orang (69%). Pengalihan stressor yang dilakukan mahasiswa yaitu saat jam dinas selalu memikirkan tugas yang belum selesai dikerjakan.
r.           Undoing, adalah bertindak atau berkomunikasi yang secara sebagian meniadakan yang sudah ada sebelumnya; mekanisme pertahanan diri primitif. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian kecil mahasiswa menggunakan mekanisme koping dengan undoing sebanyak 14 orang (19%). Pengalihan stressor yang dilakukan mahasiswa yaitu dalam melakukan tindakan tidak konsisten dengan yang lakukan kemarin.

Bedasarkan uraian hasil penelitian diatas menunjukan adanya kesamaan antara mekanisme koping perilaku berorientasi pada tugas dan mekanisme koping pertahanan ego. Keduanya banyak digunakan untuk mengatasi stressor. Hal ini menunjukan suatu tindakan yang positif karena mengarah ke mekanisme koping adaftif. Mekanisme koping adaptif adalah mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar, dan mencapai tujuan. (Stuart & Sundeen 1995).







BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.      Kesimpulan
Setelah melakukan penelitian pada 72 mahasiswa tingkat II dan tingkat III Program Studi D III Keperawatan Universitas Muhammadiyah Sukabumi, terhitung mulai dari bulan Juli 2011 sampai dengan bulan Oktober 2011, yang dilaksanakan secara sistematis, maka peneliti dapat mengetahui mekanisme koping yang digunakan oleh mahasiswa, dari hal tersebut peneliti menarik kesimpulan sesuai dengan tujuan khusus yang ingin dicapai yaitu :
1.         Proporsi mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping yang berorientasi tugas, dari hasil penelitian didapatkan :
a.          Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan perilaku menyerang sebanyak 72 orang (100%).
b.         Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan perilaku menarik diri sebanyak 12 orang (17%).
c.          Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan perilaku kompromi sebanyak 70 orang (97%).
2.         Proporsi mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping pertahanan ego, dari hasil penelitian didapatkan :
a.          Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan kompensasi sebanyak 67 orang (93%).
b.         Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan konversi sebanyak 47 orang (65%).
c.          Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan menyangkal sebanyak 16 orang (22%).
d.         Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan pemindahan tempat sebanyak 39 orang (54%).
e.          Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan identifikasi sebanyak 42 orang (58%).
f.          Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan regresi sebanyak 31 orang (43%).
g.         Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan disosiasi sebanyak 4 orang (6%).
h.         Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan intelektualisasi sebanyak 67 orang (93%).
i.           Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan introyeksi sebanyak 71 orang (99%).
j.           Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan isolasi sebanyak 67 orang (93%).
k.         Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan projeksi sebanyak 60 orang (83%).
l.           Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan rasionalisasi sebanyak 36 orang (50%).
m.       Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan reaksi formasi sebanyak 36 orang (50%).
n.         Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan represi sebanyak 30 orang (42%).
o.         Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan splitting sebanyak 62 orang (86%).
p.         Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan sublimasi sebanyak 65 orang (90%).
q.         Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan supresi sebanyak 50 orang (69%).
r.           Mahasiswa yang menggunakan mekanisme koping dengan undoing sebanyak 14 orang (19%).

B.       Saran
Dari hasil penelitian yang didapat, maka muncul beberapa saran yang berkaitan dengan penelitian tersebut antara lain :
1.         Masukan bagi Program Studi D III Keperawatan
a.          Diharapkan memberikan persiapan waktu yang lebih dan meluangkan jadwal pelajaran dikelas pada saat mendekati praktik belajar lapangan di Rumah Sakit dan ada feed back langsung dalam mengoreksi setiap tugas atau targetan praktik dari program studi.
2.         Masukan Bagi Mahasiswa/i
a.          Mahasiswa diharapkan dapat mengatur dan membagi waktu dalam melaksanakan tugas di  dalam kelas dan saat praktik belajar lapangan di Rumah Sakit.
b.         Diharapkan untuk mempertahankan mekanisme koping yang digunakan mengingat mahasiswa keperawatan akan selalu melaksanaan praktik belajar lapangan di Rumah Sakit dan merupakan calon tenaga kesehatan yang akan berinteraksi langsung dengan klien di Rumah Sakit.
3.         Masukan Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti memberikan saran bagi peneliti selanjutnya untuk menggunakan hasil penelitian ini sebagai data dasar untuk melakukan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan hubungan tingkat stress dengan mekanisme koping pada mahasiswa keperawatan dalam melaksanakan praktik belajar lapangan di Rumah Sakit.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2006) Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi VI.  Jakarta : Rineka Cipta
Hidayat, A azis alimul (2008) Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Edisi kedua. Jakarta : Salemba Medika.
Hidayat, A azis alimul (2007) Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Edisi kedua. Jakarta : Salemba Medika.
Notoatmodjo, soekidjo (2010) Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi Revisi. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Nursalam (2008) konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan.
Edisi kedua. Jakarta : Salemba Medika.
Potter, patricia A dan Perry anne griffin (2005) Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Edisi keempat Volume 2. Jakarta : EGC.
Stuart, gail wiscarz dan Sundeen sandra J (1998) Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC.
Suliswati, Dkk (2005) Konsep Dasar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC
http://medic-care.blogspot.com/2008/10/mekanisme-koping.html. Diakses pada tanggal 24 agustus 2011 pukul 10.25

No comments:

Post a Comment

DUNIA KEPERAWATAN. Powered by Blogger.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Search

Exit Jangan Lupa Klik Like & Follow Ya!!